Thursday, 14 August 2014
SEKOLAH DASAR: SOAL UJIAN NASIONAL SD 2013
SEKOLAH DASAR: SOAL UJIAN NASIONAL SD 2013: Akhirnya beres juga buat contoh soal UN SD, tapi baru beres yang matematika, semoga bisa bermanfaat. Ada 3 hal yang bisa di download soal u...
Thursday, 7 August 2014
Sebuah Perenungan
AKU
Aku
adalah aku,bukan kahlil Gibran atau chairil anwar yang mampu melukiskan kata
hati mereka dalam keindahan puisi-puisi mereka.
Bukan
pula hamka yang mampu mengambarkan kehidupan dalam sebuah novel.
Bukan
pujangga,bukan pula seorang intelektual.
Aku
adalah aku…..
Segumpal
daging yang dapat bicara,merasa dan berkarya.
Seorang
manusia yang diciptakan tuhan atas kehendaknya
Yang
ia anugerahi kemampuan terbatas,namun punya keinginan yang tak terbatas,yang
tak dapat kau kunjungi rumahku meskipun dalam mimpi.
Diatas
bumi ini aku berpijak
Melewati
waktu dalam takdirku
Sampai
saatnya nanti aku kembali kewujud asalku,sampah tanha liat.
Diatas
bumi ini pula,didunia ini
Kumainkan
peranku dalam sandiwara hidup bersama kalian,yang menjalani peran kalian sendiri.
Aku
adalah aku
Semangat
yang timbul dijiwaku adalah teriakan hatiku
Sebap
kau tiada bersahabat lagi.
Suaramu
yang duku merdu ternyata hanyalah gumtur yang memekakkan telingaku.
Biarkan
aku berjalan dijalanku
Berteriak
dan tertawa dengan suaraku
Berlari
dengan kedua kakiku
Menjamah
dan merengkuh dengan kedua tanganku
Mengapa
aku harus diam hanya karena kau bisikkan fatwa ynag sesungguhnya hanyalah bisa.
Tiada
aku pernah ingin berhenti
Ini
adalah duniaku
Gemuruh
taufan adlah sahabatku,bersamanya kau berjalan.
Dimatamu
mungkin aku tampak seperti iblis
Tapi
tidak dimata Tuhan.
Kau
sayat lidahku dengan sembilu prasangkamu
Darah
mengucur membasahi bibirku
Tapi
aku masih bisa tersenyum dalam pelukan kasihNya.
Kau
iakatkan rantai ditubuhku dank au patri rantai itu dengan tembaga
Kemudian
kau keluarkan taring dan cakarmu hendak menerkamku.
Memang
aku tampak tak berdaya,tapi kekuatan dan
semangat jiwaku
Tetaap
membara,mengalir dari urat-urat syarafku,menyusup diantara pori-pori kulitku
Aku
masih tetap perkasa seperti dulu.
Walau
kau berkabung membentangkan bendera kemenangan
Dan
aku tersenyum tertutup kafan kekalahan,aku tetaplah aku
Semangat
alam tak dapat melapukkan jiwaku.
Meskipun
bumi menghancurkan jasadku
Aku…tetaplah
aku.
RINDUKU MENGGANTUNG DIAWAN
Duniaku
terasa hampa saat aku mulai melangkahkan kakiku menapaki jalan
Yang
semakin berbatu dan berliku ini.
Disana…
Diujung
jalan ini padang gersang telah Nampak,tanpa setetes air…
Hanya
panas dan ilalang yang mulai mongering.
Aku
bersimpuh ditepi jalan ini.
Membuka
lembar demi lembar peristiwa saat kau masih bersamaku
Berbagi
cerita,duka,dan bahagia.
Kau
pernah bercerita padaku tentang kota tua yang penuh bunga
Dan
akupun bercerita tentang seorang yang dirundung nestapa.
Namun
agaknya peristiwa-peristiwa itu menguap begitu saja
Diterpa panasnya impian-impian kita
Dan
kita…….
Hanya
bisa berdiri tegak melambaikan tangan kita dijalan kita masing-masing.
Sahabatku……
Agaknya
tak bisa aku tapaki jalan ini tanpamu.
Telah
tercium olehku aroma dupa kehampaan
Dibawa
angin senja yang mulai dingin.
Aku
rindu…..,rindu pada cerita-cerita kita.
Pernah
aku titipkan rinduku pada angin
Namun
agaknya,menurut cerita kupu-kupu kertas
Rinduku
hanya menggantung diawan,terselip diantara mega-mega hitam.
Disini….
Ditepi
jalan ini kutitipkan pesanku pada burung-burung kertas
Agar
ia membawa rinduku yang menggantung diawan
Kepadamu
yang jauh disana…..
MEMBACA KEMERDEKAAN
Bacalah
kembali kalimat-kalimat tua itu
Tempat
kakek-kakekmu memahatkan riwayatnya
Pada
dinding-dinding taman kota.
Teriakan-teriakan
itu melengking-lengking didua daun telinga kita
Yang
lama tak bergerak-gerak
Rapuh
dan renta
Mengingatkan
pada anak-anak yang tak lagi punya legenda
Menjadi
asing tak berbenua,sekedar pelancong
Yang gagap menerka cuca dan mengukur
peta-peta.
Waktu
telah lama meluncur menajdi roket
Lebih
setengah abad
Tiang-tiang
terlanjur berdebu sebentar lagi jadi puing
Lampu
warna-warni itu tak pernah bisa menyala,
Bendera
yang berkibar hanya sekesar tanda,
Seperti
nisan atau setumpuk sajak tak pernah dibaca.
Dan…..anak-anak
akan jadi pecundang persis burung-burung yang kesepian
Mendongak
jauh kebintang-bintang.
Mata
dan paruhnya menyimpan dendam air mata.
Bacalah
kembali kalimat-kalimat tua itu
Kitab
kakek-kakekmu memaknai riwayatnya
Suara-suara
itu melengking-lengking kembali
Namun
kita,juga anak-anak itu terlanjur
Jadi
pelancong dungu,tambah tua dan rabun
Bagaimana
bisa membaca jejak…??????
BILA
MALAM TELAH DATANG
KEMANA
AKU HARUS MENCERITAKAN KISAH INI
Suatu kali aku pernah melihat
seorang wanita cantik nan penuh keagungan,memakai kerudung dengan wajahnya yang
penuh kelembutan kasih seorang ibu.Saat pertama kali aku melihatnya yang ada
dibenakku hanyalah rasa kagum dan simpayik karena ia Nampak sebagai seorang
wanita yang tegar dimataku,namun lama-lama perasaan dihatiku berubah dari hari
kehari menjadi rasa rindu yang sulit untuk ditahan.Hampir setiap malam aku
ingin sekali melihat wajah perempuan itu,rasanya keinginanku itu tak bisa untuk
ditahan semakin lama semakin sulit untuk dikendalikan ibarat sebuah gunung yang
akan meletus dan mengeluarkan laharnya.Berkali-kali aku menyempatkan langkahku
lewat di depan tempat ia tinggal,tak pernah sedetikpun mataku melepaskan
pandangan dari tempatnya dan tak pernah sekalipun hatiku melupakannya.
Dan pada suatu malam dengann penuh
keberanian seorang lelaki akundatang ketempatnya menawarkan diri untuk dapat
mengenal namanya,dan malam itu juga kutahu namanya adalah Zuli,singkat saja ia
menyebutkan namanya,entah Zuli siapa aku tak tahu,bagiku dapat mengenalnya saja
sudah cukup.Malam itu aku tak dapat memejamkan mataku walau hanya
sesaat,terngiang ditelingaku waktu ia menyebutkan namanya dan yang paling
membuatku merasa gundah malam itu adalah saat aku teringat kedipan matanya yang
tampak bagaikan kedipan mata seorang bidadari,lembut berirama seiring dengan
hembusan nafas yang keluar dari hidungnya.Sungguh sempurna Tuhan menciptakan
dia,ibarat selaksa keindahan ditumpahkan untuk menciptakannya.
Malam itu aku telah jadi seorang
yang paling beruntung didunia ini meskipun kutahu keadaanku yang serba terbatas
dalam segala hal,tapi semua itu tak kuhiraukan,ibarat mendapat bintang jatuh
dari langit dan menerpa tubuhkuhingga aku
tak mampu bergerak,hanya diam terpaku dantak mampu untuk mengucapkan
sepatah katapun.Hari-hariku yang semula hany dipenuhi kelus kesah kini telah
berubah dan berganti dengan kebahagiaan,bila pada awalnya kulalui hari-hariku
dengan kebimbangan,kini dapat kulalui hidupku dengan mantap seakan-akan
tersimpan harapan untukku dilangit,yang mana harapan itu dapat kuraih kapanpun
aku mau.Dan sebagai seorang yang paling beruntung tak pernah sekalipunmuntuk
memberitahukan kebahagiaanku ini pada sahabatku,Tuhan yang begitu memahamiku
dengan sempurna,tahu segala kesedihan dan beban yang ada dihatiku serta
memberiku jalan keluar terhadap segala beban yang aku tanggung.
Oh…… tidak,rupanya hal itu tidak berlangsung
lama,kudengar belakangan ini dia akan segera pulang ketempat asalnya yang ada
di Pemalang Jawa Tengah.Sedih hatiku mendengarnya,terbayang hari-hariku akan
kembali dipenuhi kegalauan lagi seperti dahulu.Segera aku berlari ketempatnya
menanyakan apakah benar hal itu akan ia lakukan,setelah kudapatkan jawaban
bahwa ia hanya pulang untuk sememtara waktu lalu kembali lagi kesini karena
tugasnya sebagai perawat belum selesai untuk jangka waktu yang cukup
lama,legalah hatiku,berarti kegalauanku tak akan lagi mengungkung hatiku untuk
waktu yang lama.
Dan hari-hariku berjalan seperti
biasanya,tapi kini menjadi lebih berarti karna dari gelagat yang Nampak ia
kelihatan juga menyukaiku,begitu juga halnya dengan diriku yang memang telah
lama menaruh hati padanya.Kini aku lebih sering bermain ketempatnya,rasa
kesepian kini tak lagi menerpaku karena aku tahu ada orang lain selai Tuhan
yang mau mengerti aku.
Entah mengapa suatu hari ada setan
yang membisikkan padaku sebuah bisikan yang menyuruhku untuk mengatakan cinta
padanya,pada mulanya tak kuhiraukan hal itu karena aku maklum siapa sebenarnya
diriku ini,tak lebih dari seorang cowok yang terbatas segala-galanya,sehingga
tak mungkin ada seorang cewek yang mau padaku,dan mungkin hanya cewek bodoh
saja yang mau padaku.Tapi dasar setan,semakin tak kuhiraukan bisikannya semakin
gencar saja agaknya mereka membisikiku untuk mengatakan cinta.Mula-mula dengan
ragu-ragu kulakukan hal itu,dengan memancing omongan yang menjurus kearah
itu,dan agaknya iapun menaggapinya denga serius.Dari sikapnya itu semakin
membuatku berani untuk menanyakan tipe cowok idamanya,dan katanya ia suka pada
cowok yang setia dan taan beragama,aku merasa ia bukanlah cewek yang
materialistis jadi semakin berani saja aku mencuri-curi nalar padanya.Kucoba
menawarkan diriku padanya dan agaknya ia member isyarat dengan kedipan matanya.
Begitulah kejadian itu,dari
pertemuan yang tak terduga akhirnya berujung pada kisah pertemuan dua perasaan
yang saling membuthkan.Hampir setiap hariku dipenuhi impian-impian akan
membentuk sebuah keluarga yang bahagia denganya,karena usiaku memang sudah pantas
untuk menikah.aku tak ingin dikatakan orang sebagai cowok tak laku-laku,karena
itu dengan segenap semangat yang aku miliki aku berusaha mempersiapkan segala
sesuatu untuk melamarnya pada orang tuanya.lahir bathin aku siapkan untuk
memboyongnya menjadi istriku,tapi alangkah malangnya diriku ini aku telah salah
mengartikan isyarat yang ia berikan padaku,yang ternyata hanyalah sebuah
isyarat untuk membentuk sebuah persahabatan yang kekal denganku,bukan seperti
yang aku duga sebelumnya bahwa ia mau membentuk sebuah keluarga
bersamaku,melalui hari-hari bersama,saling menunjukkan jalan kebenaran.kutahu
itu belakangan sewaktu ia bercerita bahwa dirinya telah dilamar oleh seorang
pemuda dari daerahku juga,teman sesame profesi denganya dan sebagai seorang
sahabat,katanya ia meminta pertimbanganku.sebetulnya akau ingin menangis saat
itu juga,tapi demi menjagawibawaku sebagai seorang lelaki kutahan perasaan
itu.gelap……gelap rasanya duniaku saat itu,aku tak tahu lagi apa yang harus ku
katakana bahwa aku benar-benar mengharapkan kehadiranya disisiku,ataukah harus
kurelakan ia menjadi milik orang lain sementaradidalam hatiku teraa gersang
mengharaapkan siraman cinta darinya.
Akhirnya denga penuh rasa kesatria
kukatakan padanya untuk menerima saja lamaran teman seprofesinya itu,siapa tahu
denganya ia bisa menemukan kebahagiaan seperti yang selama ini ia ceritakan padaku.aku segera berpamitan
padanya,dadaku telah sesak oleh perasaan yang bercampur aduk tak karuan,antara
menyesal dan malu.sesampainya dirumah kurebahkan tubuhku dikasur tempat
tidurku,aku menangis sepuas hatiku menyesali semua yang telah terjadi
padaku.ingin rasanya hatiku mengumpat nasib sial yang selalu menyertaiku
sepanjang hayat,namun bila kuingat wajah Tuhan yang menciptakan nasib itu
perasaan berdosa dating menyergapkuMestinya aku bersyukur padanya,bahwa dengan
penuh cinta ia memberiku kesempatan seindah itu untuk bertemu gadis secantik
dan sebaik zuli,meskipun aku tak mampu meraih cintanya tapi aku telah memperoleh kepercayaan yang besar
sebagai seorang sahabat,tapi entahlah….yang ada dihatiku hanyalah rasa gersang
akan cinta,cinta dari wanita yang jadi tambatan hatiku selama ini,tempat dimana
ingin kucurahkan seluruh pengharapan dan
do’aku untuk meraih keberuntungan hidup agar tak pernah lagi ada rasa gundah
dalam menapaki jalan hidup ini.
Malam itu kulalui dengan perasaan
galau,dan agaknya malam itupun menjawabnya dengan tidak menampakkan satu
bintangpun.aku tak tahu bagaimana lagi kulalui malam-malam selanjutnya,kemana
dan pada siapa harus aku ceritakan kisahku ini,aku tak tahu juga apakah kisah
semacam ini akan aku alami lagi dalam hidupku dilain hari,mungkinkah aku
ditakdirkan untuk menjalani peran kelam dalam sandiwara hidup ini????aku tak
tahu,yang kutahu hanyalah bahwa aku bingung untuk menceritaakan kisah ini bila
malam datang bersama kesunyian dan rintih rembulan tertutup awan.
Wednesday, 6 August 2014
SEGO MEGONO: Sejarah Kabupaten Batang
SEGO MEGONO: Sejarah Kabupaten Batang: Legenda merupakan cerita rakyat pada jaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah, misalnya tentang nama asal-usul suatu da...
Saturday, 2 August 2014
Prasasti wurare menguak sejarah
Sepintas
orang yang melihatnya memang berupa arca Joko Dolog, yang diyakini sebagai
perwujudan Raja Kertanegara. Arca yang terbuat dari batu andesit dan berdiri
megah di kawasan Taman Apsari Surabaya ini, sesungguhnya memuat sebuah prasasti.
Di sekeliling batur alas sandaran
arca tersebut terdapat pahatan prasasti yang merupakan sebuah sajak 19 bait,
ditulis dengan aksara Jawa Kuno dan berbahasa Sansekerta.
Prasasti
tersebut dikenal dengan sebutan Prasasti Wurare karena ditemukannya di suatu
tempat yang bernama Wurare. Banyak pendapat mengenai keberadaan Wurare. Ada
yang mengatakan Wurare berada di Desa Kedungwulan, dekat Kota Nganjuk. Ada juga
yang menyebutnya bahwa Wurare berada di daerah Kandang Gajah, wilayah Desa
Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Menurut Prof. DR.
Poerbatjaraka yang dimuat dalam majalah Bahasa
dan Budaya (No. 2 Tahun III, Desember 1954) daerah Blora itu merupakan
tempat tinggal Mpu Bharada yang hidup pada zaman Raja Airlangga. Kata
Poerbatjaraka, kata Blora itu berasal dari kata Wurara atau Wurare. Kata
ini, jika dikupas dari segi etimologi, terdiri dari bhu, artinya tanah, dan rara
atau rard, artinya anak. Sinonim kata
tanah adalah lemah, dan sinonim kata
anak adalah putra. Oleh karena itu,
kata Wurare atau Bhurare dapat pula berarti Lemahputra.
Dalam perkembangan selanjutnya, kata lemahputra
menjadi lemahpatra. Kata patra, menurut Poerbatjaraka berarti
surat, tulis dan citra. Sehubungan dengan ini maka timbul nama lemahtulis dan lemahcitra.
ArcaJoko Dolog dibuat oleh Kertanegara untuk dipersembahkan kepada Mpu Bharada yang tinggal di Wurare. Mpu Bharada sebagai seorang pandita dan sekaligus juga seorang pujangga yang hidup pada zaman Raja Airlangga di JawaTimur (1019-1042) sangat dihormati oleh Raja Kertanegara karena jasa-jasanya yang besar pada negara dan bangsa.
Jadi,
dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa arca Joko Dolog itu semula berada di Wurare (= Blora, sekarang). Lalu, pada
era Majapahit dipindahkan dari Wurare ke Majapahit. Pada zaman penjajahan
Belanda, arca ini diketemukan di Trowulan, Mojokerto, di antara batang-batang
kayu (yang disebut orang, dolog) pada
sebuah penimbunan kayu. Karena arca berada di tengah timbunan kayu maka ia
seolah-olah jaga (menjaga) timbunan
kayu. Kata jaga ini kemudian berubah
menjadi kata jaka. Selanjutnya,
perpaduan jaka dan dolog menjadi kata Joko Dolog. Ketika
Thomas Stamford Raffles berkuasa di Pulau Jawa, arca Joko Dolog diangkut dari
Trowulan ke Surabaya. Maksud Raffles, arca ini akan dibawa ke negerinya,
Inggris, tetapi ternyata arca tersebut tidak mau dibawa olehnya. Perahu yang
akan membawa arca tersebut tidak mau dibawa olehnya. Perahu yang akan membawa
arca ini ke Inggris tidak mau berlayar. Akhirnya ditinggal di Surabaya.
Prasasti
Wurare bertarikh 1211 Saka atau 21 November 1289, dan ditulis oleh seorang abdi
Raja Kertajaya bernama Bada atau Nadajna, berisi:
- adāu namāmi sarbājñaṃ, jñānakayan tathāgataṃ, sarwwaskandhātiguhyasthani, sad-satpakṣawarjjitaṃ.
- anw atas sarwwasiddhim wā, wande'hang gaurawāt sadā, çākakālam idaṃ wakṣye, rajakïrttiprakaçanaṃ.
- yo purā paṇḍitaç çreṣṭha, āryyo bharāḍ abhijñātah, jñānasiddhim samagāmyā, bhijñālabho munïçwarah.
- mahāyogïçwaro dhïrah, satweṣu kāruṇātmakah, siddhācāryyo māhawïro rāgādikleçawarjjitah.
- ratnākarapramāṇān tu, dwaidhïkṛtya yawāwanlm, kṣitibhedanam sāmarthya, kumbhawajrodakena wai.
- nrpayoṛ yuddhākaiikṣinoh, estāsmaj janggalety eṣā, pamjaluwiṣayā smṛtā
- kin tu yasmāt raraksemām, jaya-çrï-wiṣnuwarddhanah, çrï-jayawarddhanïbhāryyo, jagannāthottamaprabhuh
- ājanmapariçuddhānggah, krpāluh dharmmatatparah, pārthiwanandanang krtwā, çuddhakïrttiparākramāt
- ekïkrtya punar bhümïm, prïtyārthan jagatām sadā, dharmmasamrakṣanārtham wā pitrādhiṣthāpanāya ca
- yathaiwa kṣitirājendrag, çrï-hariwarddhanātmajah, çrï-jayawarddhanïputrah, caturdwïpegwaro munih
- ageṣatatwasampürnno, dharmmāgastrawidam warah, jïrnnodhārakriyodyukto, dharmmagasanadecakah
- çrï-jnānaçiwabajrākya, ç çittaratnawibhüsanah, prajñāragmiwiçuddhānggas, sambodhijñānapāragah
- subhaktyā tam pratiṣthāpya, swayaṃ purwwam pratiṣthitam, çmāçane urarenāmni, mahākṣobhyānurüpatah
- bhawacakre çakendrābde, māse cāsujisaṃjñāke, pañcaṃyām çuklapakse ca, ware, a-ka-bu-saṃjñāke
- sintanāmni ca parwwe ca, karane wiṣtisaṃskrte, anurādhe'pi naksatre, mitre ahendramandale
- saubhāgyayogasaṃbandhe, somye caiwa muhürttake, kyāte kuweraparwwege tulārāçyabhisaṃyute
- hitāya sarbasatwānām, prāg ewa nrpates sadā, saputrapotradārasva kṣityekibhāwakāranāt
- athāsya dāsabhüto'ham, nādajño nama kïrttinah, widyāhïno'pi saṃmuḍho, dharmmakriyāṣw atatpara
- dhārmmadhyakṣatwam āsādya, krpayaiwāsj'a tatwatah, sakākalam sambaddhatya, tadrājānujnayā puñah
Alihbahasa ke dalam bahasa Indonesia diambilkan dari http://menguaktabirsejarah.blogspot.com sebagai berikut:
1. Pertama-tama saya panjatkan puja puji syukur kepada Sang Tathagata (Pencipta), Sang Maha Tahu
yang merupakan perwujudan dari segala pengetahuan, yang keberadaanya
tersembunyi di antara semua unsur atau elemen kehidupan (skandha) dan yang terbebaskan dari segala bentuk ketiadaan dan
keniscayaan.
2. Dengan segala penuh kehormatan selanjutnya atas kegemilangan
yang mendunia dan yang akan dicatat sebagai sejarah pada tahun Saka masa yang
menggambarkan kemuliaan raja.
3. Adalah Arya Bharada yang
terhormat di antara yang terbaik dari golongan orang-orang bijak dan
orang-orang terpelajar, yang konon pada masa lampau, zaman terdahulu,
berdasarkan hasil kesempurnaan pengalamannya oleh karenanya memperoleh abhijna (pengetahuan dan kemampuan
supranatural).
4. Terkemuka di antara para yogi besar, yang hidupnya penuh
ketenangan, penuh kasih dan makhluk yang pandai berserah diri, seorang guru Siddha, seorang pahlawan besar dan yang
berhati bersih jauh dari segala noda dan prasangka.
5-6. Yang telah membagi dataran Jawa menjadi dua bagian dengan
batas luar adalah lautan, oleh sarana kendi (kumbha) dan air sucinya dari langit (vajra). Air suci yang memiliki kekuatan putus bumi dan dihadiahkan
bagi kedua pangeran, menghindari permusuhan dan perselisihan - oleh karena itu
kuatlah Jangala sebagaimana Jayanya Panjalu (vishaya).
7-9. Tetapi, dalam hal ini Raja Sri Jaya Wisnuwadhana, yang
mempunyai permaisuri Sri Jayawardhani, yang terbaik di antara para penguasa
bumi, yang memiliki kesucian jiwa pada kelahirannya, penuh kasih dan penguasa
keadilan, oleh sebab disegani oleh para penguasa lainnya dikarenakan kesucian
dan keberaniannya dalam mempersatukan negara untuk kemakmuran rakyat, menjaga
hukum dan menetapkannya dan pewaris dari penguasa keadilan sebelumnya.
10-12. Tersebutlah, seorang raja yang bernama Sri Jnanasiwawajra
(red, Sri Kertanegara), putra dari Sri Hariwardhana (red, Sri Jaya
Wisnuwadhana) dan Sri Jaya Wardhani, adalah raja dari empat pulau, luas ilmunya
dan adalah yang terbaik dari semuanya, yang memahami segala hukum dan
membuatnya, yang mempunyai kecemerlangan pikiran dan sangat bersemangat untuk
melakukan pekerjaan perbaikan dalam kehidupan beragama, yang tubuhnya disucikan
dengan sinar kebijaksanaan dan yang sepenuhnya memahami sambodhi (ilmu pengetahuan
agama Buddha) - layaknya sang Indra diantara mereka para raja yang memerintah
di bumi.
13-17. Maka dibuatlah tugu peringatan (arca) setelah pengabdiannya
sebagai perlambang kebesaran dirinya yang ditahbiskan dalam bentuk perupaan Mahakshobhya, pada tahun 1211 Saka pada
bulan atau Asuji (Asvina) pada hari dikenal sebagai Pa-ka-bu, hari kelima dari cahaya bulan
setengah terang, sebagai mana kisah dalam Parvan
bernama Sinta dan vishti karana, Ketika Para Anuradha Nakshatra berada di bola atau
Indra, terus Saubhagya yoga dan Saumya muhurta dan di Tula Rasi - demi
kebaikan semua makhluk, dan yang Terutama dari Semuanya, oleh karena raja
dengan keluarganya, telah membawa persatuan negara.
18-19.
Saya, (yaitu abdi raja, red pembuat prasasti) hamba yang rendah hati, yang
dikenal dengan nama Nadajna, meskipun bodoh, tanpa belajar dan hanya sedikit
melakukan kebaikan, telah melakukan atas dasar persetujuan Raja, menjadi
pemandu upacara ritual keagamaan, telah diperintah oleh Vajrajnana untuk
mempersiapkan kisah ini.
Versi lain sejarah Bojonegoro
Di waktu masa maha raja balitung (th – 910 M) yang menguasai jawa
tengah dan jawa timur daerah yang sekarang dikenal dengan nama
Bojonegoro belumlah ada. Yang ada hanyalah hutan luas yang di impit oleh
pegunungan kapur di sebelah selatan dan utara yang dilewati sungai
bengawan solo dan sungai brantas.
Kira-kira tahun 1000 masehi baru hutan ini yang menduduki yaitu orang-orang keratin madang kemulan. Awal mulanya hutan ini diberi nama “Alas Tuo” namaun setelah didatang masyarakat imigran dari jawa tengah. Mulai banyak didirikan desa-desa disekitar hutan. Diantaranya adalah Desa Gadung, Desa dander dan sebagainya. Para pendatang yang mendirikan desa-desa itu membuat masyarakat sendiri berdasarakan hubungan keluarga. Di tiap-tiap masyarakat tersebut terdapat kepala desa. Di antara kepala desa tersebut ada seorang kepala desa yang bernama Ki Rahadi yang menguasai Dukuh Randu Gempol. Akibat masuk kebudayaan hindu yang di terima Ki Rahadi maka cara pemerentahan meniru cara pemerentahan hindu. Nama Ki Raharadi di ubah Rakai Purnawakilan. Dukuh Randu Gempol diubah menjadi kerajaan Hurandhu Purwo (sekarang tempatnya di plesungan kapas). Beliau mengangkat dirinya sendiri menjadi raja yang mempunyai aliran Syiwa. Kerajaan diperluas dari gunung pegat hutan Babatan (sekarang babat) sampai purwosari cepu dan jatirogo (tuban) samapi layaknya benteng pertahanan kerajaan. Pusat kerajaan berlokasi di daerah kedaton (sekrang di daerah kapas).
Jalan propinsi kota bojonegoro (Jl. Gajah Mada, dipenogoro, kartini, AKBP M. suroko samapai jalan jakasa agung suprapto) dulunya masih berupa sungai besar yang sekarang dinamakan sungai bengawan solo yang waktu itu ramai sekali digunakan untuk perdagangan. Tempat raja berburu di desa padang dan sumberarum sekarang. Kerajaan Hurarandu purwa musnah bersamaan dengan hilangnya raja rakai pikatan secara turun menurun.
Di awal abad 19 indonesia berasa dalam kekuasaan pemerentah belanda. Di tahun 1824 ada 3 daerah di sekitar bojonegoro yang belum ikut dalam pemerentahan belanda yaitu daerah:
1. Kabupaten Mojoranu (dander) yang dipimpin oleh bupati R.T. Sosrodiningrat. 2. Kabupaten Padangan (desa pasinan) yang di pimpin oleh bupati R.T. Prawirogdo 3. Kabupaten Baurno (desa kauman) yang dipimpin oleh Bupati R.T. Honggrowikomo
Ketiga buapti ini dalam pengawasan bupati madiun yang bernama R.T Ronggo yang mewakili kerajaan mataram di jawa tengah. Waktu itu nama bojonegoro belum ada. Pemerentahan belanda menginginkan ketiga kabupaten dijadikan satu dan di bentuk kabupaten baru yang ikut dalam wilayah pemerentahan belanda. Untuk keperluan tersebut 3 bupati tersebut diajak musawarah di daerah padangan. Hal ini terjadi tahun 1826. Tapi bupati mojoranu yaitu R.T Sosrodinigrat dapat dijadikan alasan karena sedang berpergian ke desa cabean, daerah rejoso nganjuk. Selama itu pemerentahan kabupaten mojoranu di serahkan kepada pateh demang R. Sumosirjo beserta putra-putrinya yaitu R.M Sosrodilogo dan R.M Surratin yang waktu itu masih didaerah nganjuk. Selama itu pemerantahan kabbupaten mojoranu diserahkan kepada pateh demang R. sumodirjo beserata putra-putranya yaitu R.M Sosrodilogo dan R.M Suratin yang waktu itu masih belajar agama di daerah ngithitik.
Pemerentahan belanda yang melihat untuk menyatuka 3 daerah menjadi gagal, lalu memasang rambu-rambu di wilayah mojoranu dan membuat tandingan yang di beri nama kabupten rajekwesi sekaligus membuat penjara sana. Yang di angkat oleh pemerentahan belanda menjadi bupati rajekwesi yaitu R.T Purwonegoro yang waktu itu masih berstatus bupati probolinggo hanya untuk semestara. Pusat kabupaten waktu itu berlokasi di daerah ngumpak dalem.
Karena pemerentahan di rejekwesi R.T purwonegoro tidak sesuai dengan yang diharapkan belanda maka belanda mengankat R.T joyonegoro menggantikan bapaknya yang di angkat sebagai bupati rajekwesi. Di mada pemerentahan belanda kapubaten mojoranu dianggap tidak ada. Melihat kenyataan yang demikian R.T Sosrodilogo juga mengadakan hubungan dengan pangeran dipenogoro di Mataram.
Disuatu waktu R.T joyonegoro malihat R.M Suratin R.T Sosrodiningrat seebagai bupati mojoranu memakai kebesan kerajaan. Saat itu juga R.M Suratin ditangkap dan dijebloskan ke penjara Rajekwesi. Kejadian itu diketahui R.T Sorodilogo. Setelah berunding dengan patih demangan R. Sumodiroojo dan demang kapoh maka R.T Sosrodilogo meminta bantuan pengeran dipenogoro dari mataram akhirnya dikirm bala bantuan sebanyak 40 orang.
Sengaja di buat lantaran akhirnya terjadi peperangan kecil diantara Mojoranu dan Rajekwesi. Ke 40 oarang dari mataram akhirnya ditwan dan pateh demangan R. Sumodirjo gugur dan dimakamkan di desa bendo (kapas) R.T Sosrodilogo juga dimasukan ke penjara dan dituduh sebagai pemberontak dipenjara di rajekwesi R.T Sosrodilogo bertemu dengan adiknya R.M Suratin. Keduanya akan mengadakan pemberontakan dengan perencanaan yang lebih matang dan rapi.
Akhirnya keduanya bida lepas dari penjara dan peperangan dimulai kembali. Kabupaten Rajekwesi dikepung dari berbagai arah. Dalam peperangan ini patih somodikaran gugur dan dimakamkan di desa yang sekarang disebut desa Sumodikaran (dander). Kekuatan kerajaan rajegwesi melemah. Pasukan mojoranu terus maju dan mendesak pasukan rajekwesi (rajekwesi hancur).
Pada daerah yang msih dikuasai pemerentahan belanda maka belanda mendirikan maracas kecil dan pos-pos pertahanan. Diantaranya di rembang Blora. Rajekwesi, Bancar, Jatirogo, Planturan, Babat, Kapas dll. Pasukan belanda semakin meningkatkan pertahanannya untuk mengimbangi pemberontakan rakyat. Sementra itu pahlawan R.T Sosrodilogo di rajekwesi dan sekitarnya .
Kemenangan Sosrodilogo bersama pengikut merebut rajekwesi akhirnya menimbulkan semangat perlawanan terhadap belanda di daerah lain. Kota Baorno yang diduduki belanda yang berda di perbatasan Surabaya dan tuban meraka kewalahan dan terancam. Pasukan rakyat juga menguasai daerah selatan padangan. Diteruskan kemudian akanmenyerang kota ngawi. Bisa dikatakan diakhiri. Tahun 1827 di daerah rajekwesi di penuhi dengan pemberontakan dan peperangan.
Pahlawan rakyat melawan pemrenthan belnda si awali dari pecahnya oerang di penogoro di mataram pda tahun 1825. R.T Sosrodilogo yang memimpin pasukannya merebut rejekwesi sempat juga di jadikan perwira pasukan kraton Yogyakrata dan pangeran dipenogoro. Perlawanan rakyat juga dialami di kota blora dipimpin oleh Raden Ngabel Tortonoto yang akhirnya menguasai kota blora.
Akhirnya kota rajekwesi dibakar hangus oleh pasukan mojoranu R.T Sosrodilogo bersama pasukannya menguasai semua daerah sekitar kabupaten rejekwesi. Bupati rajekwesi R.T joyonegoro melarikan diri meminta ke bupati sedayu. Sebelum sampai kabupaten sedayu teryata R.T joyonegoro bertemu dengan bupati sedayu di bengawan solo yang sudah siap dengan bala tentaranya yang akan membantu R.T joyonegoro.
Kabupaten sedayu merupakan sekutu rajekwesi yang sama-sama mengakui kekuasaan pemerentahan belanda. Di pinggir daerah rajekwesi bupati sedayu bersama pasukanya mendirikan markas-marakas kecil sementara pasukan lainya diperentah untuk menyerbu kabupaten mojoranu. Sesampai di kabupaten mojoranu pasukan sedayu bertempur dengan pasukan mojoranu. Pasukan sedayu yang berasal dari orang-orang masura dan makasar akhirnya terdesak dan kembali ke markasanya.
Kota rajekwesi akhirnya diduduki oleh R.T Sosrodilogo salah satu kesalahan besar pasukan rakyat adalah setelah mengalami kemenangan dalam peperangan. Banyak dari pasukan itu mau bersenang-senang dahulu sebelum meneruskan peperangan selanjutnya. Hal ini di manfaatkan oleh belanda untuk mengumpulkan dan menata kekuatan kembali.
Bantuan dari belanda mengalir terus menerus ke rembang dan rejekwesi. Pasukan belandaa dari padangan akhirnya dikirim masuk ke kota rajekwesi pasukan rakyat semakin terdesak. mojoranu dapat dikalahkan R.T Sosrodilogo bersama pasukan yang tersisa melarikan diri.
Pada tanggal 26 januari 1828 belanda dapat memasuki kota rajekwesi. R.T Sorodilogo malarikan diri ke arah selatan planturan. Semangat pangikut R.T Sosrodilogo menjadi lemah. Pada tanggal 7 maret 1828 bisa dikatakan pahlawan rakyat di daerah rembang. Rajekwesi dan lain-lain dianggap rampung.
Kira-kira tahun 1000 masehi baru hutan ini yang menduduki yaitu orang-orang keratin madang kemulan. Awal mulanya hutan ini diberi nama “Alas Tuo” namaun setelah didatang masyarakat imigran dari jawa tengah. Mulai banyak didirikan desa-desa disekitar hutan. Diantaranya adalah Desa Gadung, Desa dander dan sebagainya. Para pendatang yang mendirikan desa-desa itu membuat masyarakat sendiri berdasarakan hubungan keluarga. Di tiap-tiap masyarakat tersebut terdapat kepala desa. Di antara kepala desa tersebut ada seorang kepala desa yang bernama Ki Rahadi yang menguasai Dukuh Randu Gempol. Akibat masuk kebudayaan hindu yang di terima Ki Rahadi maka cara pemerentahan meniru cara pemerentahan hindu. Nama Ki Raharadi di ubah Rakai Purnawakilan. Dukuh Randu Gempol diubah menjadi kerajaan Hurandhu Purwo (sekarang tempatnya di plesungan kapas). Beliau mengangkat dirinya sendiri menjadi raja yang mempunyai aliran Syiwa. Kerajaan diperluas dari gunung pegat hutan Babatan (sekarang babat) sampai purwosari cepu dan jatirogo (tuban) samapi layaknya benteng pertahanan kerajaan. Pusat kerajaan berlokasi di daerah kedaton (sekrang di daerah kapas).
Jalan propinsi kota bojonegoro (Jl. Gajah Mada, dipenogoro, kartini, AKBP M. suroko samapai jalan jakasa agung suprapto) dulunya masih berupa sungai besar yang sekarang dinamakan sungai bengawan solo yang waktu itu ramai sekali digunakan untuk perdagangan. Tempat raja berburu di desa padang dan sumberarum sekarang. Kerajaan Hurarandu purwa musnah bersamaan dengan hilangnya raja rakai pikatan secara turun menurun.
Di awal abad 19 indonesia berasa dalam kekuasaan pemerentah belanda. Di tahun 1824 ada 3 daerah di sekitar bojonegoro yang belum ikut dalam pemerentahan belanda yaitu daerah:
1. Kabupaten Mojoranu (dander) yang dipimpin oleh bupati R.T. Sosrodiningrat. 2. Kabupaten Padangan (desa pasinan) yang di pimpin oleh bupati R.T. Prawirogdo 3. Kabupaten Baurno (desa kauman) yang dipimpin oleh Bupati R.T. Honggrowikomo
Ketiga buapti ini dalam pengawasan bupati madiun yang bernama R.T Ronggo yang mewakili kerajaan mataram di jawa tengah. Waktu itu nama bojonegoro belum ada. Pemerentahan belanda menginginkan ketiga kabupaten dijadikan satu dan di bentuk kabupaten baru yang ikut dalam wilayah pemerentahan belanda. Untuk keperluan tersebut 3 bupati tersebut diajak musawarah di daerah padangan. Hal ini terjadi tahun 1826. Tapi bupati mojoranu yaitu R.T Sosrodinigrat dapat dijadikan alasan karena sedang berpergian ke desa cabean, daerah rejoso nganjuk. Selama itu pemerentahan kabupaten mojoranu di serahkan kepada pateh demang R. Sumosirjo beserta putra-putrinya yaitu R.M Sosrodilogo dan R.M Surratin yang waktu itu masih didaerah nganjuk. Selama itu pemerantahan kabbupaten mojoranu diserahkan kepada pateh demang R. sumodirjo beserata putra-putranya yaitu R.M Sosrodilogo dan R.M Suratin yang waktu itu masih belajar agama di daerah ngithitik.
Pemerentahan belanda yang melihat untuk menyatuka 3 daerah menjadi gagal, lalu memasang rambu-rambu di wilayah mojoranu dan membuat tandingan yang di beri nama kabupten rajekwesi sekaligus membuat penjara sana. Yang di angkat oleh pemerentahan belanda menjadi bupati rajekwesi yaitu R.T Purwonegoro yang waktu itu masih berstatus bupati probolinggo hanya untuk semestara. Pusat kabupaten waktu itu berlokasi di daerah ngumpak dalem.
Karena pemerentahan di rejekwesi R.T purwonegoro tidak sesuai dengan yang diharapkan belanda maka belanda mengankat R.T joyonegoro menggantikan bapaknya yang di angkat sebagai bupati rajekwesi. Di mada pemerentahan belanda kapubaten mojoranu dianggap tidak ada. Melihat kenyataan yang demikian R.T Sosrodilogo juga mengadakan hubungan dengan pangeran dipenogoro di Mataram.
Disuatu waktu R.T joyonegoro malihat R.M Suratin R.T Sosrodiningrat seebagai bupati mojoranu memakai kebesan kerajaan. Saat itu juga R.M Suratin ditangkap dan dijebloskan ke penjara Rajekwesi. Kejadian itu diketahui R.T Sorodilogo. Setelah berunding dengan patih demangan R. Sumodiroojo dan demang kapoh maka R.T Sosrodilogo meminta bantuan pengeran dipenogoro dari mataram akhirnya dikirm bala bantuan sebanyak 40 orang.
Sengaja di buat lantaran akhirnya terjadi peperangan kecil diantara Mojoranu dan Rajekwesi. Ke 40 oarang dari mataram akhirnya ditwan dan pateh demangan R. Sumodirjo gugur dan dimakamkan di desa bendo (kapas) R.T Sosrodilogo juga dimasukan ke penjara dan dituduh sebagai pemberontak dipenjara di rajekwesi R.T Sosrodilogo bertemu dengan adiknya R.M Suratin. Keduanya akan mengadakan pemberontakan dengan perencanaan yang lebih matang dan rapi.
Akhirnya keduanya bida lepas dari penjara dan peperangan dimulai kembali. Kabupaten Rajekwesi dikepung dari berbagai arah. Dalam peperangan ini patih somodikaran gugur dan dimakamkan di desa yang sekarang disebut desa Sumodikaran (dander). Kekuatan kerajaan rajegwesi melemah. Pasukan mojoranu terus maju dan mendesak pasukan rajekwesi (rajekwesi hancur).
Pada daerah yang msih dikuasai pemerentahan belanda maka belanda mendirikan maracas kecil dan pos-pos pertahanan. Diantaranya di rembang Blora. Rajekwesi, Bancar, Jatirogo, Planturan, Babat, Kapas dll. Pasukan belanda semakin meningkatkan pertahanannya untuk mengimbangi pemberontakan rakyat. Sementra itu pahlawan R.T Sosrodilogo di rajekwesi dan sekitarnya .
Kemenangan Sosrodilogo bersama pengikut merebut rajekwesi akhirnya menimbulkan semangat perlawanan terhadap belanda di daerah lain. Kota Baorno yang diduduki belanda yang berda di perbatasan Surabaya dan tuban meraka kewalahan dan terancam. Pasukan rakyat juga menguasai daerah selatan padangan. Diteruskan kemudian akanmenyerang kota ngawi. Bisa dikatakan diakhiri. Tahun 1827 di daerah rajekwesi di penuhi dengan pemberontakan dan peperangan.
Pahlawan rakyat melawan pemrenthan belnda si awali dari pecahnya oerang di penogoro di mataram pda tahun 1825. R.T Sosrodilogo yang memimpin pasukannya merebut rejekwesi sempat juga di jadikan perwira pasukan kraton Yogyakrata dan pangeran dipenogoro. Perlawanan rakyat juga dialami di kota blora dipimpin oleh Raden Ngabel Tortonoto yang akhirnya menguasai kota blora.
Akhirnya kota rajekwesi dibakar hangus oleh pasukan mojoranu R.T Sosrodilogo bersama pasukannya menguasai semua daerah sekitar kabupaten rejekwesi. Bupati rajekwesi R.T joyonegoro melarikan diri meminta ke bupati sedayu. Sebelum sampai kabupaten sedayu teryata R.T joyonegoro bertemu dengan bupati sedayu di bengawan solo yang sudah siap dengan bala tentaranya yang akan membantu R.T joyonegoro.
Kabupaten sedayu merupakan sekutu rajekwesi yang sama-sama mengakui kekuasaan pemerentahan belanda. Di pinggir daerah rajekwesi bupati sedayu bersama pasukanya mendirikan markas-marakas kecil sementara pasukan lainya diperentah untuk menyerbu kabupaten mojoranu. Sesampai di kabupaten mojoranu pasukan sedayu bertempur dengan pasukan mojoranu. Pasukan sedayu yang berasal dari orang-orang masura dan makasar akhirnya terdesak dan kembali ke markasanya.
Kota rajekwesi akhirnya diduduki oleh R.T Sosrodilogo salah satu kesalahan besar pasukan rakyat adalah setelah mengalami kemenangan dalam peperangan. Banyak dari pasukan itu mau bersenang-senang dahulu sebelum meneruskan peperangan selanjutnya. Hal ini di manfaatkan oleh belanda untuk mengumpulkan dan menata kekuatan kembali.
Bantuan dari belanda mengalir terus menerus ke rembang dan rejekwesi. Pasukan belandaa dari padangan akhirnya dikirim masuk ke kota rajekwesi pasukan rakyat semakin terdesak. mojoranu dapat dikalahkan R.T Sosrodilogo bersama pasukan yang tersisa melarikan diri.
Pada tanggal 26 januari 1828 belanda dapat memasuki kota rajekwesi. R.T Sorodilogo malarikan diri ke arah selatan planturan. Semangat pangikut R.T Sosrodilogo menjadi lemah. Pada tanggal 7 maret 1828 bisa dikatakan pahlawan rakyat di daerah rembang. Rajekwesi dan lain-lain dianggap rampung.
Napak Tilas Sejarah Bojonegoro
Sejarah berdirinya
Bojonegoro
. Baru sekitar
± tahun 1000-an,di hutan ini mulai di diami oleh orang-orang dari
Kerajaan Medang Kamulan,setelah di diami
beberapa orang imigran dari jawa
tengah, maka timbullah perkampungan-perkampungan
misalnya: perkampungan Gedung,Rahu [ yang
sekarang Ngraho ],Esdander /Bedander [ sekarang Dander ],Toja,Adiluwih dll.
Para imigran yang mendirikan
perkampungan-perkampungan itu terikat dalam persukuan-persukuan yang
atas dasar keluarga
masing-masing. Dan setiap persukuan
mempunyai kepala suku, kepala Suku yang
paling kuat saat itu bernama Ki Ruhadi ,ia
mengepalai
Pada Tahun [ 898-91O ] yang berkuasa atas wilayah
Jawa Tengah dan jawa Timur adalah masa Pemerintahan Maha Raja
Balitung, kala itu
Bojonegoro belum ada dan hanyalah sebuah hutan rimba yang diberi nama Alas Tua
, diapit-apit oleh pegunungan kapur sebelah utara dan pegunungan kapur sebelah
selatan,serta dialiri oleh sungai Solo dan
Kali Brantas
Dukuh Randu
Gempol, karena ia di anggap
mempunyai kekuatan gaib [ charisma ]
yang besar dan lantaran keberaniannya, maka ia di segani oleh para penduduk dan
kepala-kepala suku yang lain.
Lama
kelamaan karena pengaruh kultur
Hinduisme yang makin meresap ,
maka Ki Ruhadi akhirnya menghindukan daerahnya. Dengan system pemerintahan yang
Hinduisme nama Ki Ruhadi di ubah menjadi Rakai Purnawikan dan di angkat menjadi raja yang beraliran syiwa. Sedangkan Dukuh Randu Gempol di ubah menjadi Kerajaan
Hurandu Purwa [ yang letaknya di Ds.Plesungan kapas sekarang ]. Kemudian iapun
menaklukan datuk-datuk sekitarnya. Kerajaannyapun di perluas dari gunung pegat
di hutan Babatan [ sekarang babat ] hingga ke Purwosari,cepu,Jatirogo [ tuban ]
dan hutan wangi [ sekarang ngawi ].
Pegunungan kapur utara dan
pegunungan kapur selatan di pakainya
sebagai benteng pertahanan.Sungai Solo
di pakai sebagai lalu lintas
perdagangan,[jl.gajah mada,kartini dan darma bakti hingga jl.jaksa agung
suprapto pada waktu masih merupakan sungai solo yang ramai akan lalu lintas ],sedangkan
ibu kota kerajaan di pusatkan di Kedaton [ sekarang Ds.kedaton kapas ] yang ±
tahun 1.115 menjadi pusat keramain kerajaan Hurandu Purwa.
Setelah
lenyapnya raja dan kerajaan Hurandu Purwa,pada abad X yakni; tatkala Maharaja
Airlangga bertahta di kahuripan [ 1006-1042 ],maka kembali nama kerajaan
Hurandu Purwa di liputi misteri. Waktu itu ada seorang raja putri Mahasia dari
Wengker memperluas wilayah kekuasaannya ke utara. Kerajaan-kerajaan kecil yang
ikut di caploknya adalah;Djulungpudjut,Ketanggapura,Argasoka. Adapun
Ketanggapura terletak di Ds.Sumberrejo sekarang.Sedangkan Argasoka terletak di
Ds. Prambon kec.Soko sekarang. Dan ini menandakan bahwa pada abad XI itu tidak
ada sebuah kerajaan luas yang bersatu,melainkan kerajaan-kerajaan kecil yang
bertebaran di berbagai tempat.
Sedangkan kekuasaan Raja Putri Mahasia di kota Gedah [ yang terletak diperbatasan Nganjuk-Kertosona sekarang ]. Dan ketika Raja
Airlangga dengan bantuan Mpu Baradah dapat menaklukan Kerajaan Wengker { Raja
Putri Mahasia }, Dengan demikian seluruh wilayah jawa timur menjadi kekuasaan
Prabu Airlangga. Dan untuk menyenangakn hati,Prabu
Airlangga membuat padang perburuan di Karang Kahuripan,Krapyak dan Bedander (
sekarang Dander ).Dengan demikian
hanya ada satu Kabupaten yang diperbolehkan berdiri disini yaitu;Kabupaten Rajekwesi
yang terletak di ( desa Senori sekarang ),sebagai Bupatinya Airlangga menunjuk
kemenakannya sendiri yaitu Pandaprana. Sedangkan
putrinda Airlangga yang bernama Dyah Sangramawijaya Dharma tungga Dewi atau
biksumi kilicuci lebih memilih sebagai pertapa dan tidak kawin serta tidak mau
mewarisi tahta ayahanda. Ia kemudian mendirikan pertapaan-pertapaan di
Mojosari,Glagahwangi dan Sendang Siwalan. Untuk menjalankan tapanya Dyah
kilicucipun sering mengunjungi pertapaan-pertapaan dibekas kerajaan Hurandu
Purwa ini.
Kemudian dalam masa perkembangan kerajaan
Singosari ( 1222-1292 ),Kabupaten Rajekwesi memperluas dirinya ke barat dan ke
timur,Bupati-bupati keturunan Pandaprana menganggap dirinya berkuasa penuh
sebagai raja. Akibat tindakan absolute bupat-bupati itu maka pecahlah kabupaten
Rajekwesi ini,masing-masing menjadi Kabupaten Rajekwesi
Wetan,Bahuwerno,Getasan, Kenur ( sekarang kanor ),Asem Kasapta ( sekarang
ngasem ),dan Malino ( sekarang Klino ).
Dan
masing-masing kabupaten kecil-kecil menganggap punya hak otonomi daerah serta
merdeka. Pada masa Pemerintahan Kerta Redjasa Djayawardhana ( Raden Wijaya
)tahun( 1293-1309 ) Raja Majapahit yang pertama, kabupaten-kabupaten Rajekwesi
wetan, Bahuwerno, Getasan,Kenur dan Asem Kasapta di lebur menjadi satu
Kabupaten yaitu; Kabupaten Kahuripan dengan Perwitasari
menjadi Adipatinya.Dan Adipati ini masih keturunan Pandaprana. Pada
masa pemerintahan adipati inilah kali solo di bendung di daerah Gumolong (
sekarang Trucuk ).Dan pada masa itu pelabuhan Tuban terkenal sebagai pelabuhan
transito. Hasil-hasil kayu,kelapa,buah-buahan,sayur-mayur dari Kahuripan di
ekspor keluar melalui Sungai solo.
Dan
candi-candipun di dirikan untuk memuliakan Hyang Wisnu,Brahma dan syiwa di antaranya
di gunung pandan,Merak urak dan Plumpang, tapi sayang candi yang di dirikan
oleh Prabu Airlangga dan di jaga dan di pelihara dengan baik di jaman Majapahit
itu telah di hancurkan oleh tentara Islam dari Demak,ketika ia menyerang
Kahuripan dari daerah Bonang Tuban. Sebuah candi yang masih berdiri megah
terletak di Ds. Banjararum. Candi ini dirikan oleh adipati Perwitasari,conon
candi tersebut tertimbun tanah yang terletak di Dusun Pagak ( sekarang).
Sedangkan beberapa candi budha dengan pertapaan kecil-kecil tersebar di dusun
Banjarsari dan Mentora di daerah soko. Kemudian pada jaman kerajaan islam di
Demak ( 1521 ),boleh dikatakan nama Kahuripan ditelan jaman atau telah
dilupakan oleh sejarah.Karena pada waktu perampok Loka Djaja menjarah beberapa
buah desa di wilayah kahuripan,kabupaten dan isinya tak luput dari bahaya
api.Hanya beberapa pedusunan kecil yang terletak di kalirejo dan leran saja
yang masih berdiri.
Kemudian sekitar tahun 1523 timbullah
dua kabupaten islam dibekas kabupaten itu.Dua kabupaten itu adalah kabupaten Jipang Panolan dan Kabupaten Waru.Kemudian sultan Demak mengangkat seorang hamba
sahayanya yaitu Raden Wirabaya sebagai Adipati Jipang dan bekas Senopati Anggakusuma
sebagai Adipati Waru.Adapun di kabupaten tersebut,diserahkan oleh Sultan Demak
kedalam kekuasaan Sunan Bonang. Kemudian sunan Bonang menyerahkan kedua
kabupaten tersebut kepada Sunan Kalijaga muridnya. Ketika Adipati Wiroboyo
mangkat,maka Sultan Demak mengangkat Pangeran Sekar sebagai Adipati Jipang.Tatkala
beliau terbunuh oleh kemenakannya sendiri maka,Ario Penangsang ( Putra Pangeran
Sekar ) diangkat menjadi Adipati Jipang Panolan.
Sedangkan dalam tahun-tahun berikutnya Bupati-bupati Rajekwesi dan
Boworeno di angkat langsung oleh Sunan Kalijaga dan mereka itu semua adalah
putra keturunan Sunan Kalijaga. Dan ini penting untuk mengkokohkan pundamen
kekuasaan. Ketika Ario Penagsang
memberontak pada Demak,maka kedua Kabupaten Rajekwesi dan Boworeno dibakarnya
lantas dipersatukannya dengan Jipang Panolan. Waktu itu Demak tidak berbuat
apa-apa sehingga Ario Penangsang praktis tidak berkuasa atas Tuban juga,karena
masa itu Tuban termasuk wilayah Rajekwesi. Salah seorang kepercayaan Ario
Penangsang Ki Ageng Wiropati di angkat menjadi Buyut ( setingkat Demang )di
Banjarsari.
Dan
seorang lagi Ageng Ki Badjoel Seto diangkat menjadi Buyut di Krapyak (
kalirejo). Tatkala kerajaan Pajang berdiri (kesultanan) dengan Sultan
Hadiwijaya (Joko Tingkir ) sebagai Sultannya ( 1563-1582 ), maka kekuasaan Ario
Penagsang di pesisir utara hamper menandingi Pajang.Melihat hal yang demikian
maka Sultan Pajang ingin mengenyahkan Ario penangsang. Setelah Ario Penangsang
berhasil di enyahkan / dibunuhnya,hancurlah Jipang Panolan. Sultan Pajang
akhirnya mempersatukan Jipang dengan Pajang. Sedangkan pada waktu Ario Pangiri di pindahkan
sebagai Bupati Demak,maka putra mahkota Pangeran Pajang yaitu Pangeran Bawono
diperbantukan sementara sebagai Bupati Jipang.Sedangkan wilayah Jipang sendiri
dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Jipang dan Kabupaten
Rajekwesi.
Untuk
Kabupaten Jipang tetap di perintahnya sendiri, sedang untuk kabupaten yang baru
( Rajekwesi ) di tunjuk Pangeran Timur ( putra pangeran Trenggono ) sebagai
Bupatinya. Sedangkan sebagai hadiah kepada Danang Suta Adiwijaya (anak Ki Gede Pemanahan)
yang sudah berhasil membunuh Ario Penangsang, Maka hutan Randu Blatung,Padangan
dan Pengawikan ( Ngawi sekarang )di
tambah hutan Mentaok di serahkan kepada Danang Suta Adiwijaya. Dan selanjutnya
Danang Suta Adiwijaya di jadikan putra Sultan.
Pada tahun 1570 Danang Suta Adiwijaya (Pangeran Hangebei Loring pasar)
mengadakan kudeta atas kesultanan Pajang,dan sultan Hadiwijaya dibunuhnya.
Setelah
Danang Suta Adiwijaya berhasil menjadi Raja mataram beliau bergelar Panembahan
Senopati ( 1586-1601 ),maka beliau kemudian memanggil Pangeran Bawono ke
mataram. Panembahan Senopati membagi daerah menjadi dua bagian,ini dilakukan
karena beliau masih menghargai hak-hak pewaris putra mahkota Pajang. Untuk
panembahan Senopati tetap memerintah bekas kesultanan Pajang yang lama dengan
memindahkan kerajaan Gedi ( Kota Gede ). Sedangkan daerah Jipang Panolan,Randu
blatung,Padangan dan Pengawikan di serahkan kepada Pangeran Bawono,sedangkan
untuk Pangeran Timur masih tetap memerintah Rajekwesi dan tetap berstatus
Bupati .Sedangkan untuk Pangeran Bawono di perbolehkan menjadi Sultan. Kemudian
dalam tahun 1588 Pangeran Bawono mengangkat dirinya menjadi Sultan dengan gelar
Sultan Prabu widjaya dan daerahnya di namakan Panjang Sewu. Tak lama kemudian
daerah PanjangSewu semakin luas serta seluruh pesisir utarapun menyatakan
tunduk kepada Sultan PanjangSewu.
Melihat akan hal ini Panembahan Senopati
merasa khawatir kalau kekuasaannya terancam, maka iapun mengerahkan pasukannya
untuk menggempur PanjangSewu dan menaklukannya. Dan pertempuranpun meletus,namun
Prabu widjaya gigih dalam melawan pasukan panembahan senopati. Dalam
pertempuran berkali-kali di sungai Solo,Kedung Srengenge,Palesungan,Dampit dan
Tapelan pasukan Panembahan Senopati menderita kekalahan.Dengan banyaknya
kerugian dan kekalahan akhirnya Panembahan Senopati meminta bantuan Sunan
Mojoagung dan bala tentara portugis untuk menaklukan dan menghancurkan Sultan
Prabu Widjaya ( PanjangSewu ). Karena pasukan PanjangSewu kalah persenjataan
dengan tentara portugis lama kelamaan pasukan PanjangSewu semakin
terdesak.Sungai Solo dan anak-anak sungainya jatuh ketangan musuh. Perbentengan
dibukit kapur utara dan selatanpun dapat digempur dan di rebut oleh mataram.
PanjangSewupun akhirnya dapat di taklukan dan di hancurkan. Dan Sultan
Prabuwidjaya dan keluarganya melarikan diri ke utara untuk menyelamatkan diri.
Dalam pelariannya ke Banjarsari sultan dengan para pangerannya tertangkap oleh
lawan dan di binasakan lalu mayatnya juga di kuburkan di daerah itu.
Semenjak
jatuhnya PanjangSewu nama Jipang dan Rajekwesi hilang dari penulis-penulis
sejarah.Dalam pemerintahan raja-raja mataram,Kartasura, Surakarta,dan
Yogjakarta (1645-1757 ), nama-nama daerah yang sering disebut sengketa antara
Kasunan Surakarta dengan Kasultanan Yogjakarta
itu adalah Jipang dan Kertosono. Dan satu kali Adipati Prawirodirdjo II dari
Kertosono menyerang Jipang dan daerah itu direbutnya dari tangan sultan
solo,lalu menyerahkannya kepada Sultan Hamengkubuwono II. Dimasa pemerintahan
Hamengkubuwono II yang termasuk Jipang itu adalah daerah-daerah : Blora, Bonang,Pamotan,Padangan,Rajekwesi,dan Lasem. Jadi praktis Rajekwesi menjadi wilayah kesultanan
Yogjakarta.
Ketika
Sultan Hamengkubuwono II memasukkan daerah-daerah itu ke wilayahnya,maka nama
Jipang di hapus dan di ganti dengan nama Rajekwesi. Rajekwesi yang sebagai kabupaten untuk itu di
taruhlah seorang putra dari selir bernama Kanjeng Raden Tumenggung
Wiryohadinegoro. Dalam menjalankan
tugas sehari-hari ia di bantu oleh seorang patih.Setelah sepeninggalannya lalu
Sultan mengangkat putranya R.M Brotodiningrat sebagai Bupati
Rajekwesi. Pada waktu
meletus perang Diponegoro ( 1825-1830 ), Bupati Brotodiningrat di daulat oleh
rakyatnya sendiri. Karena rakyat di hasut oleh seorang tokoh pemberontak dari
Tuban yang bernama Sosrodilogo.Dengan kekuatan pasukan Diponegoro dari
Rembang,Sosrodilogo berhasil merebut kekuasaannya atas tahta Rajekwesi itu.
Keraton di bakar jadi abu,dan bekas pondasi perumahan kabupaten itulah yang
akhirnya di namakan Ngumpakdalem dan
desa di sekitar itupun lantas bernama Ngumpakdalem.
Ketika
R.M Soedarsono ( putra Bupati Brotodiningrat ) mendapat mandat rakyat untuk
menjadi Bupati pengganti ayahnya.Tetapi beliau di tembak oleh kompeni
Belanda,waktu pepergian ke Surabaya ( 11 April 1826 ). Adiknya yang bernama R.M
Sasongko akhirnya mau berdamai dengan Belanda dan berhasil membunuh si
pemberontak Sosrodilogo,kemudian Belanda mengangkat R.M Sasongko sebagai Bupati
Rajekwesi dengan gelar R.M Srio Adipati Mulyodiningrat. Pada tanggal 14
Nopember 1827 Bupati pindah ke Ibu kota agak ke utara bekas hutan Kebogadung.
Subscribe to:
Posts (Atom)