Thursday, 2 October 2014

Thursday, 14 August 2014

SEKOLAH DASAR: SOAL UJIAN NASIONAL SD 2013

SEKOLAH DASAR: SOAL UJIAN NASIONAL SD 2013: Akhirnya beres juga buat contoh soal UN SD, tapi baru beres yang matematika, semoga bisa bermanfaat. Ada 3 hal yang bisa di download soal u...

Thursday, 7 August 2014

Sebuah Perenungan



 AKU
Aku adalah aku,bukan kahlil Gibran atau chairil anwar yang mampu melukiskan kata hati mereka dalam keindahan puisi-puisi mereka.
Bukan pula hamka yang mampu mengambarkan kehidupan dalam sebuah novel.
Bukan pujangga,bukan pula seorang intelektual.

Aku adalah aku…..
Segumpal daging yang dapat bicara,merasa dan berkarya.
Seorang manusia yang diciptakan tuhan atas kehendaknya
Yang ia anugerahi kemampuan terbatas,namun punya keinginan yang tak terbatas,yang tak dapat kau kunjungi rumahku meskipun dalam mimpi.

Diatas bumi ini aku berpijak
Melewati waktu dalam takdirku
Sampai saatnya nanti aku kembali kewujud asalku,sampah tanha liat.

Diatas bumi ini pula,didunia ini
Kumainkan peranku dalam sandiwara hidup bersama kalian,yang menjalani peran kalian sendiri.

Aku adalah aku
Semangat yang timbul dijiwaku adalah teriakan hatiku
Sebap kau tiada bersahabat lagi.
Suaramu yang duku merdu ternyata hanyalah gumtur yang memekakkan telingaku.

Biarkan aku berjalan dijalanku
Berteriak dan tertawa dengan suaraku
Berlari dengan kedua kakiku
Menjamah dan merengkuh dengan kedua tanganku
Mengapa aku harus diam hanya karena kau bisikkan fatwa ynag sesungguhnya hanyalah bisa.

Tiada aku pernah ingin berhenti
Ini adalah duniaku
Gemuruh taufan adlah sahabatku,bersamanya kau berjalan.

Dimatamu mungkin aku tampak seperti iblis
Tapi tidak dimata Tuhan.

Kau sayat lidahku dengan sembilu prasangkamu
Darah mengucur membasahi bibirku
Tapi aku masih bisa tersenyum dalam pelukan kasihNya.
Kau iakatkan rantai ditubuhku dank au patri rantai itu dengan tembaga
Kemudian kau keluarkan taring dan cakarmu hendak menerkamku.

Memang aku tampak tak berdaya,tapi kekuatan  dan semangat jiwaku
Tetaap membara,mengalir dari urat-urat syarafku,menyusup diantara pori-pori kulitku
Aku masih tetap perkasa seperti dulu.

Walau kau berkabung membentangkan bendera kemenangan
Dan aku tersenyum tertutup kafan kekalahan,aku tetaplah aku
Semangat alam tak dapat melapukkan jiwaku.
Meskipun bumi menghancurkan jasadku
Aku…tetaplah aku.





RINDUKU MENGGANTUNG DIAWAN

Duniaku terasa hampa saat aku mulai melangkahkan kakiku menapaki jalan
Yang semakin berbatu dan berliku ini.
Disana…
Diujung jalan ini padang gersang telah Nampak,tanpa setetes air…
Hanya panas dan ilalang yang mulai mongering.

Aku bersimpuh ditepi jalan ini.
Membuka lembar demi lembar peristiwa saat kau masih bersamaku
Berbagi cerita,duka,dan bahagia.
Kau pernah bercerita padaku tentang kota tua yang penuh bunga
Dan akupun bercerita tentang seorang yang dirundung nestapa.

Namun agaknya peristiwa-peristiwa itu menguap begitu saja
 Diterpa panasnya impian-impian kita
Dan kita…….
Hanya bisa berdiri tegak melambaikan tangan kita dijalan kita masing-masing.

Sahabatku……
Agaknya tak bisa aku tapaki jalan ini tanpamu.
Telah tercium olehku aroma dupa kehampaan
Dibawa angin senja yang mulai dingin.
Aku rindu…..,rindu pada cerita-cerita kita.

Pernah aku titipkan rinduku pada angin
Namun agaknya,menurut cerita kupu-kupu kertas
Rinduku hanya menggantung diawan,terselip diantara mega-mega hitam.

Disini….
Ditepi jalan ini kutitipkan pesanku pada burung-burung kertas
Agar ia membawa rinduku yang menggantung diawan
Kepadamu yang jauh disana…..



MEMBACA KEMERDEKAAN

Bacalah kembali kalimat-kalimat tua itu
Tempat kakek-kakekmu memahatkan riwayatnya
Pada dinding-dinding taman kota.

Teriakan-teriakan itu melengking-lengking didua daun telinga kita
Yang lama tak bergerak-gerak
Rapuh dan renta
Mengingatkan pada anak-anak yang tak lagi punya legenda
Menjadi asing tak berbenua,sekedar pelancong
 Yang gagap menerka cuca dan mengukur peta-peta.

Waktu telah lama meluncur menajdi roket
Lebih setengah abad
Tiang-tiang terlanjur berdebu sebentar lagi jadi puing
Lampu warna-warni itu tak pernah bisa menyala,
Bendera yang berkibar hanya sekesar tanda,
Seperti nisan atau setumpuk sajak tak pernah dibaca.
Dan…..anak-anak akan jadi pecundang persis burung-burung yang kesepian
Mendongak jauh kebintang-bintang.
Mata dan paruhnya menyimpan dendam air mata.

Bacalah kembali kalimat-kalimat tua itu
Kitab kakek-kakekmu memaknai riwayatnya
Suara-suara itu melengking-lengking kembali
Namun kita,juga anak-anak itu terlanjur
Jadi pelancong dungu,tambah tua dan rabun
Bagaimana bisa membaca jejak…??????













BILA MALAM TELAH DATANG
KEMANA AKU HARUS MENCERITAKAN KISAH INI

            Suatu kali aku pernah melihat seorang wanita cantik nan penuh keagungan,memakai kerudung dengan wajahnya yang penuh kelembutan kasih seorang ibu.Saat pertama kali aku melihatnya yang ada dibenakku hanyalah rasa kagum dan simpayik karena ia Nampak sebagai seorang wanita yang tegar dimataku,namun lama-lama perasaan dihatiku berubah dari hari kehari menjadi rasa rindu yang sulit untuk ditahan.Hampir setiap malam aku ingin sekali melihat wajah perempuan itu,rasanya keinginanku itu tak bisa untuk ditahan semakin lama semakin sulit untuk dikendalikan ibarat sebuah gunung yang akan meletus dan mengeluarkan laharnya.Berkali-kali aku menyempatkan langkahku lewat di depan tempat ia tinggal,tak pernah sedetikpun mataku melepaskan pandangan dari tempatnya dan tak pernah sekalipun hatiku melupakannya.
            Dan pada suatu malam dengann penuh keberanian seorang lelaki akundatang ketempatnya menawarkan diri untuk dapat mengenal namanya,dan malam itu juga kutahu namanya adalah Zuli,singkat saja ia menyebutkan namanya,entah Zuli siapa aku tak tahu,bagiku dapat mengenalnya saja sudah cukup.Malam itu aku tak dapat memejamkan mataku walau hanya sesaat,terngiang ditelingaku waktu ia menyebutkan namanya dan yang paling membuatku merasa gundah malam itu adalah saat aku teringat kedipan matanya yang tampak bagaikan kedipan mata seorang bidadari,lembut berirama seiring dengan hembusan nafas yang keluar dari hidungnya.Sungguh sempurna Tuhan menciptakan dia,ibarat selaksa keindahan ditumpahkan untuk menciptakannya.
            Malam itu aku telah jadi seorang yang paling beruntung didunia ini meskipun kutahu keadaanku yang serba terbatas dalam segala hal,tapi semua itu tak kuhiraukan,ibarat mendapat bintang jatuh dari langit dan menerpa tubuhkuhingga aku  tak mampu bergerak,hanya diam terpaku dantak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun.Hari-hariku yang semula hany dipenuhi kelus kesah kini telah berubah dan berganti dengan kebahagiaan,bila pada awalnya kulalui hari-hariku dengan kebimbangan,kini dapat kulalui hidupku dengan mantap seakan-akan tersimpan harapan untukku dilangit,yang mana harapan itu dapat kuraih kapanpun aku mau.Dan sebagai seorang yang paling beruntung tak pernah sekalipunmuntuk memberitahukan kebahagiaanku ini pada sahabatku,Tuhan yang begitu memahamiku dengan sempurna,tahu segala kesedihan dan beban yang ada dihatiku serta memberiku jalan keluar terhadap segala beban yang aku tanggung.
            Oh…… tidak,rupanya hal itu tidak berlangsung lama,kudengar belakangan ini dia akan segera pulang ketempat asalnya yang ada di Pemalang Jawa Tengah.Sedih hatiku mendengarnya,terbayang hari-hariku akan kembali dipenuhi kegalauan lagi seperti dahulu.Segera aku berlari ketempatnya menanyakan apakah benar hal itu akan ia lakukan,setelah kudapatkan jawaban bahwa ia hanya pulang untuk sememtara waktu lalu kembali lagi kesini karena tugasnya sebagai perawat belum selesai untuk jangka waktu yang cukup lama,legalah hatiku,berarti kegalauanku tak akan lagi mengungkung hatiku untuk waktu yang lama.
            Dan hari-hariku berjalan seperti biasanya,tapi kini menjadi lebih berarti karna dari gelagat yang Nampak ia kelihatan juga menyukaiku,begitu juga halnya dengan diriku yang memang telah lama menaruh hati padanya.Kini aku lebih sering bermain ketempatnya,rasa kesepian kini tak lagi menerpaku karena aku tahu ada orang lain selai Tuhan yang mau mengerti aku.
            Entah mengapa suatu hari ada setan yang membisikkan padaku sebuah bisikan yang menyuruhku untuk mengatakan cinta padanya,pada mulanya tak kuhiraukan hal itu karena aku maklum siapa sebenarnya diriku ini,tak lebih dari seorang cowok yang terbatas segala-galanya,sehingga tak mungkin ada seorang cewek yang mau padaku,dan mungkin hanya cewek bodoh saja yang mau padaku.Tapi dasar setan,semakin tak kuhiraukan bisikannya semakin gencar saja agaknya mereka membisikiku untuk mengatakan cinta.Mula-mula dengan ragu-ragu kulakukan hal itu,dengan memancing omongan yang menjurus kearah itu,dan agaknya iapun menaggapinya denga serius.Dari sikapnya itu semakin membuatku berani untuk menanyakan tipe cowok idamanya,dan katanya ia suka pada cowok yang setia dan taan beragama,aku merasa ia bukanlah cewek yang materialistis jadi semakin berani saja aku mencuri-curi nalar padanya.Kucoba menawarkan diriku padanya dan agaknya ia member isyarat dengan kedipan matanya.
            Begitulah kejadian itu,dari pertemuan yang tak terduga akhirnya berujung pada kisah pertemuan dua perasaan yang saling membuthkan.Hampir setiap hariku dipenuhi impian-impian akan membentuk sebuah keluarga yang bahagia denganya,karena usiaku memang sudah pantas untuk menikah.aku tak ingin dikatakan orang sebagai cowok tak laku-laku,karena itu dengan segenap semangat yang aku miliki aku berusaha mempersiapkan segala sesuatu untuk melamarnya pada orang tuanya.lahir bathin aku siapkan untuk memboyongnya menjadi istriku,tapi alangkah malangnya diriku ini aku telah salah mengartikan isyarat yang ia berikan padaku,yang ternyata hanyalah sebuah isyarat untuk membentuk sebuah persahabatan yang kekal denganku,bukan seperti yang aku duga sebelumnya bahwa ia mau membentuk sebuah keluarga bersamaku,melalui hari-hari bersama,saling menunjukkan jalan kebenaran.kutahu itu belakangan sewaktu ia bercerita bahwa dirinya telah dilamar oleh seorang pemuda dari daerahku juga,teman sesame profesi denganya dan sebagai seorang sahabat,katanya ia meminta pertimbanganku.sebetulnya akau ingin menangis saat itu juga,tapi demi menjagawibawaku sebagai seorang lelaki kutahan perasaan itu.gelap……gelap rasanya duniaku saat itu,aku tak tahu lagi apa yang harus ku katakana bahwa aku benar-benar mengharapkan kehadiranya disisiku,ataukah harus kurelakan ia menjadi milik orang lain sementaradidalam hatiku teraa gersang mengharaapkan siraman cinta darinya.
            Akhirnya denga penuh rasa kesatria kukatakan padanya untuk menerima saja lamaran teman seprofesinya itu,siapa tahu denganya ia bisa menemukan kebahagiaan seperti yang selama ini  ia ceritakan padaku.aku segera berpamitan padanya,dadaku telah sesak oleh perasaan yang bercampur aduk tak karuan,antara menyesal dan malu.sesampainya dirumah kurebahkan tubuhku dikasur tempat tidurku,aku menangis sepuas hatiku menyesali semua yang telah terjadi padaku.ingin rasanya hatiku mengumpat nasib sial yang selalu menyertaiku sepanjang hayat,namun bila kuingat wajah Tuhan yang menciptakan nasib itu perasaan berdosa dating menyergapkuMestinya aku bersyukur padanya,bahwa dengan penuh cinta ia memberiku kesempatan seindah itu untuk bertemu gadis secantik dan sebaik zuli,meskipun aku tak mampu meraih cintanya tapi aku  telah memperoleh kepercayaan yang besar sebagai seorang sahabat,tapi entahlah….yang ada dihatiku hanyalah rasa gersang akan cinta,cinta dari wanita yang jadi tambatan hatiku selama ini,tempat dimana ingin kucurahkan seluruh pengharapan  dan do’aku untuk meraih keberuntungan hidup agar tak pernah lagi ada rasa gundah dalam menapaki jalan hidup ini.
            Malam itu kulalui dengan perasaan galau,dan agaknya malam itupun menjawabnya dengan tidak menampakkan satu bintangpun.aku tak tahu bagaimana lagi kulalui malam-malam selanjutnya,kemana dan pada siapa harus aku ceritakan kisahku ini,aku tak tahu juga apakah kisah semacam ini akan aku alami lagi dalam hidupku dilain hari,mungkinkah aku ditakdirkan untuk menjalani peran kelam dalam sandiwara hidup ini????aku tak tahu,yang kutahu hanyalah bahwa aku bingung untuk menceritaakan kisah ini bila malam datang bersama kesunyian dan rintih rembulan tertutup awan.


Wednesday, 6 August 2014

SEGO MEGONO: Sejarah Kabupaten Batang

SEGO MEGONO: Sejarah Kabupaten Batang: Legenda merupakan cerita rakyat pada jaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah, misalnya tentang nama asal-usul suatu da...

Saturday, 2 August 2014

Prasasti wurare menguak sejarah

Sepintas orang yang melihatnya memang berupa arca Joko Dolog, yang diyakini sebagai perwujudan Raja Kertanegara. Arca yang terbuat dari batu andesit dan berdiri megah di kawasan Taman Apsari Surabaya ini, sesungguhnya memuat sebuah prasasti. Di sekeliling batur alas sandaran arca tersebut terdapat pahatan prasasti yang merupakan sebuah sajak 19 bait, ditulis dengan aksara Jawa Kuno dan berbahasa Sansekerta.
Prasasti tersebut dikenal dengan sebutan Prasasti Wurare karena ditemukannya di suatu tempat yang bernama Wurare. Banyak pendapat mengenai keberadaan Wurare. Ada yang mengatakan Wurare berada di Desa Kedungwulan, dekat Kota Nganjuk. Ada juga yang menyebutnya bahwa Wurare berada di daerah Kandang Gajah, wilayah Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Menurut Prof. DR. Poerbatjaraka yang dimuat dalam majalah Bahasa dan Budaya (No. 2 Tahun III, Desember 1954) daerah Blora itu merupakan tempat tinggal Mpu Bharada yang hidup pada zaman Raja Airlangga. Kata Poerbatjaraka, kata Blora itu berasal dari kata Wurara atau Wurare. Kata ini, jika dikupas dari segi etimologi, terdiri dari bhu, artinya tanah, dan rara atau rard, artinya anak. Sinonim kata tanah adalah lemah, dan sinonim kata anak adalah putra. Oleh karena itu, kata Wurare atau Bhurare dapat pula berarti Lemahputra. Dalam perkembangan selanjutnya, kata lemahputra menjadi lemahpatra. Kata patra, menurut Poerbatjaraka berarti surat, tulis dan citra. Sehubungan dengan ini maka timbul nama lemahtulis dan lemahcitra.

ArcaJoko Dolog dibuat oleh Kertanegara untuk dipersembahkan kepada Mpu Bharada yang tinggal di Wurare. Mpu Bharada sebagai seorang pandita dan sekaligus juga seorang pujangga yang hidup pada zaman Raja Airlangga di JawaTimur (1019-1042) sangat dihormati oleh Raja Kertanegara karena jasa-jasanya yang besar pada negara dan bangsa.
Jadi, dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa arca Joko Dolog itu semula berada di Wurare (= Blora, sekarang). Lalu, pada era Majapahit dipindahkan dari Wurare ke Majapahit. Pada zaman penjajahan Belanda, arca ini diketemukan di Trowulan, Mojokerto, di antara batang-batang kayu (yang disebut orang, dolog) pada sebuah penimbunan kayu. Karena arca berada di tengah timbunan kayu maka ia seolah-olah jaga (menjaga) timbunan kayu. Kata jaga ini kemudian berubah menjadi kata jaka. Selanjutnya, perpaduan jaka dan dolog menjadi kata Joko Dolog. Ketika Thomas Stamford Raffles berkuasa di Pulau Jawa, arca Joko Dolog diangkut dari Trowulan ke Surabaya. Maksud Raffles, arca ini akan dibawa ke negerinya, Inggris, tetapi ternyata arca tersebut tidak mau dibawa olehnya. Perahu yang akan membawa arca tersebut tidak mau dibawa olehnya. Perahu yang akan membawa arca ini ke Inggris tidak mau berlayar. Akhirnya ditinggal di Surabaya.
Prasasti Wurare bertarikh 1211 Saka atau 21 November 1289, dan ditulis oleh seorang abdi Raja Kertajaya bernama Bada atau Nadajna, berisi:
  1. adāu namāmi sarbājñaṃ, jñānakayan tathāgataṃ, sarwwaskandhātiguhyasthani, sad-satpakṣawarjjitaṃ.
  2. anw atas sarwwasiddhim wā, wande'hang gaurawāt sadā, çākakālam idaṃ wakṣye, rajakïrttiprakaçanaṃ.
  3. yo purā paṇḍitaç çreṣṭha, āryyo bharāḍ abhijñātah, jñānasiddhim samagāmyā, bhijñālabho munïçwarah.
  4. mahāyogïçwaro dhïrah, satweṣu kāruṇātmakah, siddhācāryyo māhawïro rāgādikleçawarjjitah.
  5. ratnākarapramāṇān tu, dwaidhïkṛtya yawāwanlm, kṣitibhedanam sāmarthya, kumbhawajrodakena wai.
  6. nrpayoṛ yuddhākaiikṣinoh, estāsmaj janggalety eṣā, pamjaluwiṣayā smṛtā
  7. kin tu yasmāt raraksemām, jaya-çrï-wiṣnuwarddhanah, çrï-jayawarddhanïbhāryyo, jagannāthottamaprabhuh
  8. ājanmapariçuddhānggah, krpāluh dharmmatatparah, pārthiwanandanang krtwā, çuddhakïrttiparākramāt
  9. ekïkrtya punar bhümïm, prïtyārthan jagatām sadā, dharmmasamrakṣanārtham wā pitrādhiṣthāpanāya ca
  10. yathaiwa kṣitirājendrag, çrï-hariwarddhanātmajah, çrï-jayawarddhanïputrah, caturdwïpegwaro munih
  11. ageṣatatwasampürnno, dharmmāgastrawidam warah, jïrnnodhārakriyodyukto, dharmmagasanadecakah
  12. çrï-jnānaçiwabajrākya, ç çittaratnawibhüsanah, prajñāragmiwiçuddhānggas, sambodhijñānapāragah
  13. subhaktyā tam pratiṣthāpya, swayaṃ purwwam pratiṣthitam, çmāçane urarenāmni, mahākṣobhyānurüpatah
  14. bhawacakre çakendrābde, māse cāsujisaṃjñāke, pañcaṃyām çuklapakse ca, ware, a-ka-bu-saṃjñāke
  15. sintanāmni ca parwwe ca, karane wiṣtisaṃskrte, anurādhe'pi naksatre, mitre ahendramandale
  16. saubhāgyayogasaṃbandhe, somye caiwa muhürttake, kyāte kuweraparwwege tulārāçyabhisaṃyute
  17. hitāya sarbasatwānām, prāg ewa nrpates sadā, saputrapotradārasva kṣityekibhāwakāranāt
  18. athāsya dāsabhüto'ham, nādajño nama kïrttinah, widyāhïno'pi saṃmuḍho, dharmmakriyāṣw atatpara
  19. dhārmmadhyakṣatwam āsādya, krpayaiwāsj'a tatwatah, sakākalam sambaddhatya, tadrājānujnayā puñah

Alihbahasa ke dalam bahasa Indonesia diambilkan dari http://menguaktabirsejarah.blogspot.com sebagai berikut:
1. Pertama-tama saya panjatkan puja puji syukur kepada Sang Tathagata (Pencipta), Sang Maha Tahu yang merupakan perwujudan dari segala pengetahuan, yang keberadaanya tersembunyi di antara semua unsur atau elemen kehidupan (skandha) dan yang terbebaskan dari segala bentuk ketiadaan dan keniscayaan.
2. Dengan segala penuh kehormatan selanjutnya atas kegemilangan yang mendunia dan yang akan dicatat sebagai sejarah pada tahun Saka masa yang menggambarkan kemuliaan raja.
3.  Adalah Arya Bharada yang terhormat di antara yang terbaik dari golongan orang-orang bijak dan orang-orang terpelajar, yang konon pada masa lampau, zaman terdahulu, berdasarkan hasil kesempurnaan pengalamannya oleh karenanya memperoleh abhijna (pengetahuan dan kemampuan supranatural).
4. Terkemuka di antara para yogi besar, yang hidupnya penuh ketenangan, penuh kasih dan makhluk yang pandai berserah diri, seorang guru Siddha, seorang pahlawan besar dan yang berhati bersih jauh dari segala noda dan prasangka.
5-6. Yang telah membagi dataran Jawa menjadi dua bagian dengan batas luar adalah lautan, oleh sarana kendi (kumbha) dan air sucinya dari langit (vajra). Air suci yang memiliki kekuatan putus bumi dan dihadiahkan bagi kedua pangeran, menghindari permusuhan dan perselisihan - oleh karena itu kuatlah Jangala sebagaimana Jayanya Panjalu (vishaya).
7-9. Tetapi, dalam hal ini Raja Sri Jaya Wisnuwadhana, yang mempunyai permaisuri Sri Jayawardhani, yang terbaik di antara para penguasa bumi, yang memiliki kesucian jiwa pada kelahirannya, penuh kasih dan penguasa keadilan, oleh sebab disegani oleh para penguasa lainnya dikarenakan kesucian dan keberaniannya dalam mempersatukan negara untuk kemakmuran rakyat, menjaga hukum dan menetapkannya dan pewaris dari penguasa keadilan sebelumnya.
10-12. Tersebutlah, seorang raja yang bernama Sri Jnanasiwawajra (red, Sri Kertanegara), putra dari Sri Hariwardhana (red, Sri Jaya Wisnuwadhana) dan Sri Jaya Wardhani, adalah raja dari empat pulau, luas ilmunya dan adalah yang terbaik dari semuanya, yang memahami segala hukum dan membuatnya, yang mempunyai kecemerlangan pikiran dan sangat bersemangat untuk melakukan pekerjaan perbaikan dalam kehidupan beragama, yang tubuhnya disucikan dengan sinar kebijaksanaan dan yang sepenuhnya memahami sambodhi (ilmu pengetahuan agama Buddha) - layaknya sang Indra diantara mereka para raja yang memerintah di bumi.
13-17. Maka dibuatlah tugu peringatan (arca) setelah pengabdiannya sebagai perlambang kebesaran dirinya yang ditahbiskan dalam bentuk perupaan Mahakshobhya, pada tahun 1211 Saka pada bulan atau Asuji (Asvina) pada hari dikenal sebagai Pa-ka-bu, hari kelima dari cahaya bulan setengah terang, sebagai mana kisah dalam Parvan bernama Sinta dan vishti karana, Ketika Para Anuradha Nakshatra berada di bola atau Indra, terus Saubhagya yoga dan Saumya muhurta dan di Tula Rasi - demi kebaikan semua makhluk, dan yang Terutama dari Semuanya, oleh karena raja dengan keluarganya, telah membawa persatuan negara.
18-19. Saya, (yaitu abdi raja, red pembuat prasasti) hamba yang rendah hati, yang dikenal dengan nama Nadajna, meskipun bodoh, tanpa belajar dan hanya sedikit melakukan kebaikan, telah melakukan atas dasar persetujuan Raja, menjadi pemandu upacara ritual keagamaan, telah diperintah oleh Vajrajnana untuk mempersiapkan kisah ini.

Versi lain sejarah Bojonegoro

Di waktu masa maha raja balitung (th – 910 M) yang menguasai jawa tengah dan jawa timur daerah yang sekarang dikenal dengan nama Bojonegoro belumlah ada. Yang ada hanyalah hutan luas yang di impit oleh pegunungan kapur di sebelah selatan dan utara yang dilewati sungai bengawan solo dan sungai brantas.
Kira-kira tahun 1000 masehi baru hutan ini yang menduduki yaitu orang-orang keratin madang kemulan. Awal mulanya hutan ini diberi nama “Alas Tuo” namaun setelah didatang masyarakat imigran dari jawa tengah. Mulai banyak didirikan desa-desa disekitar hutan. Diantaranya adalah Desa Gadung, Desa dander dan sebagainya. Para pendatang yang mendirikan desa-desa itu membuat masyarakat sendiri berdasarakan hubungan keluarga. Di tiap-tiap masyarakat tersebut terdapat kepala desa. Di antara kepala desa tersebut ada seorang kepala desa yang bernama Ki Rahadi yang menguasai Dukuh Randu Gempol. Akibat masuk kebudayaan hindu yang di terima Ki Rahadi maka cara pemerentahan meniru cara pemerentahan hindu. Nama Ki Raharadi di ubah Rakai Purnawakilan. Dukuh Randu Gempol diubah menjadi kerajaan Hurandhu Purwo (sekarang tempatnya di plesungan kapas). Beliau mengangkat dirinya sendiri menjadi raja yang mempunyai aliran Syiwa. Kerajaan diperluas dari gunung pegat hutan Babatan (sekarang babat) sampai purwosari cepu dan jatirogo (tuban) samapi layaknya benteng pertahanan kerajaan. Pusat kerajaan berlokasi di daerah kedaton (sekrang di daerah kapas).
Jalan propinsi kota bojonegoro (Jl. Gajah Mada, dipenogoro, kartini, AKBP M. suroko samapai jalan jakasa agung suprapto) dulunya masih berupa sungai besar yang sekarang dinamakan sungai bengawan solo yang waktu itu ramai sekali digunakan untuk perdagangan. Tempat raja berburu di desa padang dan sumberarum sekarang. Kerajaan Hurarandu purwa musnah bersamaan dengan hilangnya raja rakai pikatan secara turun menurun.
Di awal abad 19 indonesia berasa dalam kekuasaan pemerentah belanda. Di tahun 1824 ada 3 daerah di sekitar bojonegoro yang belum ikut dalam pemerentahan belanda yaitu daerah:
1. Kabupaten Mojoranu (dander) yang dipimpin oleh bupati R.T. Sosrodiningrat. 2. Kabupaten Padangan (desa pasinan) yang di pimpin oleh bupati R.T. Prawirogdo 3. Kabupaten Baurno (desa kauman) yang dipimpin oleh Bupati R.T. Honggrowikomo
Ketiga buapti ini dalam pengawasan bupati madiun yang bernama R.T Ronggo yang mewakili kerajaan mataram di jawa tengah. Waktu itu nama bojonegoro belum ada. Pemerentahan belanda menginginkan ketiga kabupaten dijadikan satu dan di bentuk kabupaten baru yang ikut dalam wilayah pemerentahan belanda. Untuk keperluan tersebut 3 bupati tersebut diajak musawarah di daerah padangan. Hal ini terjadi tahun 1826. Tapi bupati mojoranu yaitu R.T Sosrodinigrat dapat dijadikan alasan karena sedang berpergian ke desa cabean, daerah rejoso nganjuk. Selama itu pemerentahan kabupaten mojoranu di serahkan kepada pateh demang R. Sumosirjo beserta putra-putrinya yaitu R.M Sosrodilogo dan R.M Surratin yang waktu itu masih didaerah nganjuk. Selama itu pemerantahan kabbupaten mojoranu diserahkan kepada pateh demang R. sumodirjo beserata putra-putranya yaitu R.M Sosrodilogo dan R.M Suratin yang waktu itu masih belajar agama di daerah ngithitik.
Pemerentahan belanda yang melihat untuk menyatuka 3 daerah menjadi gagal, lalu memasang rambu-rambu di wilayah mojoranu dan membuat tandingan yang di beri nama kabupten rajekwesi sekaligus membuat penjara sana. Yang di angkat oleh pemerentahan belanda menjadi bupati rajekwesi yaitu R.T Purwonegoro yang waktu itu masih berstatus bupati probolinggo hanya untuk semestara. Pusat kabupaten waktu itu berlokasi di daerah ngumpak dalem.
Karena pemerentahan di rejekwesi R.T purwonegoro tidak sesuai dengan yang diharapkan belanda maka belanda mengankat R.T joyonegoro menggantikan bapaknya yang di angkat sebagai bupati rajekwesi. Di mada pemerentahan belanda kapubaten mojoranu dianggap tidak ada. Melihat kenyataan yang demikian R.T Sosrodilogo juga mengadakan hubungan dengan pangeran dipenogoro di Mataram.
Disuatu waktu R.T joyonegoro malihat R.M Suratin R.T Sosrodiningrat seebagai bupati mojoranu memakai kebesan kerajaan. Saat itu juga R.M Suratin ditangkap dan dijebloskan ke penjara Rajekwesi. Kejadian itu diketahui R.T Sorodilogo. Setelah berunding dengan patih demangan R. Sumodiroojo dan demang kapoh maka R.T Sosrodilogo meminta bantuan pengeran dipenogoro dari mataram akhirnya dikirm bala bantuan sebanyak 40 orang.
Sengaja di buat lantaran akhirnya terjadi peperangan kecil diantara Mojoranu dan Rajekwesi. Ke 40 oarang dari mataram akhirnya ditwan dan pateh demangan R. Sumodirjo gugur dan dimakamkan di desa bendo (kapas) R.T Sosrodilogo juga dimasukan ke penjara dan dituduh sebagai pemberontak dipenjara di rajekwesi R.T Sosrodilogo bertemu dengan adiknya R.M Suratin. Keduanya akan mengadakan pemberontakan dengan perencanaan yang lebih matang dan rapi.
Akhirnya keduanya bida lepas dari penjara dan peperangan dimulai kembali. Kabupaten Rajekwesi dikepung dari berbagai arah. Dalam peperangan ini patih somodikaran gugur dan dimakamkan di desa yang sekarang disebut desa Sumodikaran (dander). Kekuatan kerajaan rajegwesi melemah. Pasukan mojoranu terus maju dan mendesak pasukan rajekwesi (rajekwesi hancur).
Pada daerah yang msih dikuasai pemerentahan belanda maka belanda mendirikan maracas kecil dan pos-pos pertahanan. Diantaranya di rembang Blora. Rajekwesi, Bancar, Jatirogo, Planturan, Babat, Kapas dll. Pasukan belanda semakin meningkatkan pertahanannya untuk mengimbangi pemberontakan rakyat. Sementra itu pahlawan R.T Sosrodilogo di rajekwesi dan sekitarnya .
Kemenangan Sosrodilogo bersama pengikut merebut rajekwesi akhirnya menimbulkan semangat perlawanan terhadap belanda di daerah lain. Kota Baorno yang diduduki belanda yang berda di perbatasan Surabaya dan tuban meraka kewalahan dan terancam. Pasukan rakyat juga menguasai daerah selatan padangan. Diteruskan kemudian akanmenyerang kota ngawi. Bisa dikatakan diakhiri. Tahun 1827 di daerah rajekwesi di penuhi dengan pemberontakan dan peperangan.
Pahlawan rakyat melawan pemrenthan belnda si awali dari pecahnya oerang di penogoro di mataram pda tahun 1825. R.T Sosrodilogo yang memimpin pasukannya merebut rejekwesi sempat juga di jadikan perwira pasukan kraton Yogyakrata dan pangeran dipenogoro. Perlawanan rakyat juga dialami di kota blora dipimpin oleh Raden Ngabel Tortonoto yang akhirnya menguasai kota blora.
Akhirnya kota rajekwesi dibakar hangus oleh pasukan mojoranu R.T Sosrodilogo bersama pasukannya menguasai semua daerah sekitar kabupaten rejekwesi. Bupati rajekwesi R.T joyonegoro melarikan diri meminta ke bupati sedayu. Sebelum sampai kabupaten sedayu teryata R.T joyonegoro bertemu dengan bupati sedayu di bengawan solo yang sudah siap dengan bala tentaranya yang akan membantu R.T joyonegoro.
Kabupaten sedayu merupakan sekutu rajekwesi yang sama-sama mengakui kekuasaan pemerentahan belanda. Di pinggir daerah rajekwesi bupati sedayu bersama pasukanya mendirikan markas-marakas kecil sementara pasukan lainya diperentah untuk menyerbu kabupaten mojoranu. Sesampai di kabupaten mojoranu pasukan sedayu bertempur dengan pasukan mojoranu. Pasukan sedayu yang berasal dari orang-orang masura dan makasar akhirnya terdesak dan kembali ke markasanya.
Kota rajekwesi akhirnya diduduki oleh R.T Sosrodilogo salah satu kesalahan besar pasukan rakyat adalah setelah mengalami kemenangan dalam peperangan. Banyak dari pasukan itu mau bersenang-senang dahulu sebelum meneruskan peperangan selanjutnya. Hal ini di manfaatkan oleh belanda untuk mengumpulkan dan menata kekuatan kembali.
Bantuan dari belanda mengalir terus menerus ke rembang dan rejekwesi. Pasukan belandaa dari padangan akhirnya dikirim masuk ke kota rajekwesi pasukan rakyat semakin terdesak. mojoranu dapat dikalahkan R.T Sosrodilogo bersama pasukan yang tersisa melarikan diri.
Pada tanggal 26 januari 1828 belanda dapat memasuki kota rajekwesi. R.T Sorodilogo malarikan diri ke arah selatan planturan. Semangat pangikut R.T Sosrodilogo menjadi lemah. Pada tanggal 7 maret 1828 bisa dikatakan pahlawan rakyat di daerah rembang. Rajekwesi dan lain-lain dianggap rampung.

Napak Tilas Sejarah Bojonegoro

Sejarah berdirinya Bojonegoro
. Baru sekitar  ± tahun 1000-an,di hutan ini mulai di diami oleh orang-orang dari Kerajaan Medang  Kamulan,setelah di diami beberapa orang imigran dari  jawa tengah,  maka  timbullah perkampungan-perkampungan misalnya:  perkampungan  Gedung,Rahu [ yang sekarang Ngraho ],Esdander /Bedander [ sekarang Dander ],Toja,Adiluwih dll.
       Para imigran yang mendirikan perkampungan-perkampungan itu terikat dalam persukuan-persukuan  yang  atas dasar  keluarga masing-masing. Dan  setiap persukuan mempunyai  kepala suku, kepala Suku yang paling kuat saat itu bernama Ki Ruhadi ,ia  mengepalai

I. BOJONEGORO  antara  tahun: 298-1827
       Pada  Tahun [ 898-91O ] yang berkuasa atas wilayah Jawa Tengah dan jawa Timur adalah masa Pemerintahan Maha Raja Balitung, kala itu Bojonegoro belum ada dan hanyalah sebuah hutan rimba yang diberi nama Alas Tua , diapit-apit oleh pegunungan kapur sebelah utara dan pegunungan kapur sebelah selatan,serta dialiri oleh sungai Solo dan  Kali Brantas
 Dukuh Randu Gempol, karena  ia di anggap mempunyai  kekuatan gaib [ charisma ] yang besar dan lantaran keberaniannya, maka ia di segani oleh para penduduk dan kepala-kepala suku yang lain.
       Lama kelamaan karena  pengaruh  kultur  Hinduisme  yang makin meresap , maka Ki Ruhadi akhirnya menghindukan daerahnya. Dengan system pemerintahan yang Hinduisme nama Ki Ruhadi di ubah menjadi Rakai Purnawikan dan di angkat menjadi raja yang beraliran syiwa.  Sedangkan Dukuh Randu Gempol di ubah menjadi Kerajaan Hurandu Purwa [ yang letaknya di Ds.Plesungan kapas sekarang ]. Kemudian iapun menaklukan datuk-datuk sekitarnya. Kerajaannyapun di perluas dari gunung pegat di hutan Babatan [ sekarang babat ] hingga ke Purwosari,cepu,Jatirogo [ tuban ] dan hutan wangi [ sekarang ngawi ].
        Pegunungan kapur  utara dan pegunungan kapur selatan  di pakainya sebagai benteng pertahanan.Sungai Solo  di pakai sebagai lalu lintas  perdagangan,[jl.gajah mada,kartini dan darma bakti hingga jl.jaksa agung suprapto pada waktu masih merupakan sungai solo yang ramai akan lalu lintas ],sedangkan ibu kota kerajaan di pusatkan di Kedaton [ sekarang Ds.kedaton kapas ] yang ± tahun 1.115 menjadi pusat keramain  kerajaan Hurandu Purwa.
         Setelah lenyapnya raja dan kerajaan Hurandu Purwa,pada abad X yakni; tatkala Maharaja Airlangga bertahta di kahuripan [ 1006-1042 ],maka kembali nama kerajaan Hurandu Purwa di liputi misteri. Waktu itu ada seorang raja putri Mahasia dari Wengker memperluas wilayah kekuasaannya ke utara. Kerajaan-kerajaan kecil yang ikut di caploknya adalah;Djulungpudjut,Ketanggapura,Argasoka. Adapun Ketanggapura terletak di Ds.Sumberrejo sekarang.Sedangkan Argasoka terletak di Ds. Prambon kec.Soko sekarang. Dan ini menandakan bahwa pada abad XI itu tidak ada sebuah kerajaan luas yang bersatu,melainkan kerajaan-kerajaan kecil yang bertebaran di berbagai tempat.
         Sedangkan kekuasaan Raja Putri Mahasia di kota Gedah [ yang terletak diperbatasan  Nganjuk-Kertosona sekarang ]. Dan ketika Raja Airlangga dengan bantuan Mpu Baradah dapat menaklukan Kerajaan Wengker { Raja Putri Mahasia }, Dengan demikian seluruh wilayah jawa timur menjadi kekuasaan Prabu Airlangga. Dan untuk menyenangakn hati,Prabu Airlangga membuat padang perburuan di Karang Kahuripan,Krapyak dan Bedander ( sekarang Dander ).Dengan demikian hanya ada satu Kabupaten yang diperbolehkan berdiri disini yaitu;Kabupaten Rajekwesi yang terletak di ( desa Senori sekarang ),sebagai Bupatinya Airlangga menunjuk kemenakannya sendiri yaitu Pandaprana.  Sedangkan putrinda Airlangga yang bernama Dyah Sangramawijaya Dharma tungga Dewi atau biksumi kilicuci lebih memilih sebagai pertapa dan tidak kawin serta tidak mau mewarisi tahta ayahanda. Ia kemudian mendirikan pertapaan-pertapaan di Mojosari,Glagahwangi dan Sendang Siwalan. Untuk menjalankan tapanya Dyah kilicucipun sering mengunjungi pertapaan-pertapaan dibekas kerajaan Hurandu Purwa ini.
         Kemudian dalam masa perkembangan kerajaan Singosari ( 1222-1292 ),Kabupaten Rajekwesi memperluas dirinya ke barat dan ke timur,Bupati-bupati keturunan Pandaprana menganggap dirinya berkuasa penuh sebagai raja. Akibat tindakan absolute bupat-bupati itu maka pecahlah kabupaten Rajekwesi ini,masing-masing menjadi Kabupaten Rajekwesi Wetan,Bahuwerno,Getasan, Kenur ( sekarang kanor ),Asem Kasapta ( sekarang ngasem ),dan Malino ( sekarang Klino ).
         Dan masing-masing kabupaten kecil-kecil menganggap punya hak otonomi daerah serta merdeka. Pada masa Pemerintahan Kerta Redjasa Djayawardhana ( Raden Wijaya )tahun( 1293-1309 ) Raja Majapahit yang pertama, kabupaten-kabupaten Rajekwesi wetan, Bahuwerno, Getasan,Kenur dan Asem Kasapta di lebur menjadi satu Kabupaten yaitu; Kabupaten Kahuripan dengan  Perwitasari menjadi Adipatinya.Dan Adipati ini masih keturunan Pandaprana. Pada masa pemerintahan adipati inilah kali solo di bendung di daerah Gumolong ( sekarang Trucuk ).Dan pada masa itu pelabuhan Tuban terkenal sebagai pelabuhan transito. Hasil-hasil kayu,kelapa,buah-buahan,sayur-mayur dari Kahuripan di ekspor keluar melalui Sungai solo.
        Dan candi-candipun di dirikan untuk memuliakan Hyang Wisnu,Brahma dan syiwa di antaranya di gunung pandan,Merak urak dan Plumpang, tapi sayang candi yang di dirikan oleh Prabu Airlangga dan di jaga dan di pelihara dengan baik di jaman Majapahit itu telah di hancurkan oleh tentara Islam dari Demak,ketika ia menyerang Kahuripan dari daerah Bonang Tuban. Sebuah candi yang masih berdiri megah terletak di Ds. Banjararum. Candi ini dirikan oleh adipati Perwitasari,conon candi tersebut tertimbun tanah yang terletak di Dusun Pagak ( sekarang). Sedangkan beberapa candi budha dengan pertapaan kecil-kecil tersebar di dusun Banjarsari dan Mentora di daerah soko. Kemudian pada jaman kerajaan islam di Demak ( 1521 ),boleh dikatakan nama Kahuripan ditelan jaman atau telah dilupakan oleh sejarah.Karena pada waktu perampok Loka Djaja menjarah beberapa buah desa di wilayah kahuripan,kabupaten dan isinya tak luput dari bahaya api.Hanya beberapa pedusunan kecil yang terletak di kalirejo dan leran saja yang masih berdiri.
        Kemudian sekitar tahun 1523 timbullah dua kabupaten islam dibekas kabupaten itu.Dua kabupaten itu adalah kabupaten Jipang Panolan dan Kabupaten Waru.Kemudian sultan Demak mengangkat seorang hamba sahayanya yaitu Raden Wirabaya sebagai Adipati Jipang dan bekas Senopati Anggakusuma sebagai Adipati Waru.Adapun di kabupaten tersebut,diserahkan oleh Sultan Demak kedalam kekuasaan Sunan Bonang. Kemudian sunan Bonang menyerahkan kedua kabupaten tersebut kepada Sunan Kalijaga muridnya. Ketika Adipati Wiroboyo mangkat,maka Sultan Demak mengangkat Pangeran Sekar sebagai Adipati Jipang.Tatkala beliau terbunuh oleh kemenakannya sendiri maka,Ario Penangsang ( Putra Pangeran Sekar ) diangkat menjadi Adipati Jipang Panolan.
        Sedangkan dalam tahun-tahun berikutnya Bupati-bupati Rajekwesi dan Boworeno di angkat langsung oleh Sunan Kalijaga dan mereka itu semua adalah putra keturunan Sunan Kalijaga. Dan ini penting untuk mengkokohkan pundamen kekuasaan.  Ketika Ario Penagsang memberontak pada Demak,maka kedua Kabupaten Rajekwesi dan Boworeno dibakarnya lantas dipersatukannya dengan Jipang Panolan. Waktu itu Demak tidak berbuat apa-apa sehingga Ario Penangsang praktis tidak berkuasa atas Tuban juga,karena masa itu Tuban termasuk wilayah Rajekwesi. Salah seorang kepercayaan Ario Penangsang Ki Ageng Wiropati di angkat menjadi Buyut ( setingkat Demang )di Banjarsari.
      Dan seorang lagi Ageng Ki Badjoel Seto diangkat menjadi Buyut di Krapyak ( kalirejo). Tatkala kerajaan Pajang berdiri (kesultanan) dengan Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir ) sebagai Sultannya ( 1563-1582 ), maka kekuasaan Ario Penagsang di pesisir utara hamper menandingi Pajang.Melihat hal yang demikian maka Sultan Pajang ingin mengenyahkan Ario penangsang. Setelah Ario Penangsang berhasil di enyahkan / dibunuhnya,hancurlah Jipang Panolan. Sultan Pajang akhirnya mempersatukan Jipang dengan Pajang. Sedangkan pada waktu Ario Pangiri di pindahkan sebagai Bupati Demak,maka putra mahkota Pangeran Pajang yaitu Pangeran Bawono diperbantukan sementara sebagai Bupati Jipang.Sedangkan wilayah Jipang sendiri dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Jipang dan Kabupaten Rajekwesi.
       Untuk Kabupaten Jipang tetap di perintahnya sendiri, sedang untuk kabupaten yang baru ( Rajekwesi ) di tunjuk Pangeran Timur ( putra pangeran Trenggono ) sebagai Bupatinya. Sedangkan sebagai hadiah kepada Danang Suta Adiwijaya (anak Ki Gede Pemanahan) yang sudah berhasil membunuh Ario Penangsang, Maka hutan Randu Blatung,Padangan  dan Pengawikan ( Ngawi sekarang )di tambah hutan Mentaok di serahkan kepada Danang Suta Adiwijaya. Dan selanjutnya Danang Suta Adiwijaya di jadikan putra Sultan.  Pada tahun 1570 Danang Suta Adiwijaya (Pangeran Hangebei Loring pasar) mengadakan kudeta atas kesultanan Pajang,dan sultan Hadiwijaya dibunuhnya.
       Setelah Danang Suta Adiwijaya berhasil menjadi Raja mataram beliau bergelar Panembahan Senopati ( 1586-1601 ),maka beliau kemudian memanggil Pangeran Bawono ke mataram. Panembahan Senopati membagi daerah menjadi dua bagian,ini dilakukan karena beliau masih menghargai hak-hak pewaris putra mahkota Pajang. Untuk panembahan Senopati tetap memerintah bekas kesultanan Pajang yang lama dengan memindahkan kerajaan Gedi ( Kota Gede ). Sedangkan daerah Jipang Panolan,Randu blatung,Padangan dan Pengawikan di serahkan kepada Pangeran Bawono,sedangkan untuk Pangeran Timur masih tetap memerintah Rajekwesi dan tetap berstatus Bupati .Sedangkan untuk Pangeran Bawono di perbolehkan menjadi Sultan. Kemudian dalam tahun 1588 Pangeran Bawono mengangkat dirinya menjadi Sultan dengan gelar Sultan Prabu widjaya dan daerahnya di namakan Panjang Sewu. Tak lama kemudian daerah PanjangSewu semakin luas serta seluruh pesisir utarapun menyatakan tunduk kepada Sultan PanjangSewu.
        Melihat akan hal ini Panembahan Senopati merasa khawatir kalau kekuasaannya terancam, maka iapun mengerahkan pasukannya untuk menggempur PanjangSewu dan menaklukannya. Dan pertempuranpun meletus,namun Prabu widjaya gigih dalam melawan pasukan panembahan senopati. Dalam pertempuran berkali-kali di sungai Solo,Kedung Srengenge,Palesungan,Dampit dan Tapelan pasukan Panembahan Senopati menderita kekalahan.Dengan banyaknya kerugian dan kekalahan akhirnya Panembahan Senopati meminta bantuan Sunan Mojoagung dan bala tentara portugis untuk menaklukan dan menghancurkan Sultan Prabu Widjaya ( PanjangSewu ). Karena pasukan PanjangSewu kalah persenjataan dengan tentara portugis lama kelamaan pasukan PanjangSewu semakin terdesak.Sungai Solo dan anak-anak  sungainya jatuh ketangan musuh. Perbentengan dibukit kapur utara dan selatanpun dapat digempur dan di rebut oleh mataram. PanjangSewupun akhirnya dapat di taklukan dan di hancurkan. Dan Sultan Prabuwidjaya dan keluarganya melarikan diri ke utara untuk menyelamatkan diri. Dalam pelariannya ke Banjarsari sultan dengan para pangerannya tertangkap oleh lawan dan di binasakan lalu mayatnya juga di kuburkan di daerah itu.
      Semenjak jatuhnya PanjangSewu nama Jipang dan Rajekwesi hilang dari penulis-penulis sejarah.Dalam pemerintahan raja-raja mataram,Kartasura, Surakarta,dan Yogjakarta (1645-1757 ), nama-nama daerah yang sering disebut sengketa antara Kasunan Surakarta dengan Kasultanan Yogjakarta itu adalah Jipang dan Kertosono. Dan satu kali Adipati Prawirodirdjo II dari Kertosono menyerang Jipang dan daerah itu direbutnya dari tangan sultan solo,lalu menyerahkannya kepada Sultan Hamengkubuwono II. Dimasa pemerintahan Hamengkubuwono II yang termasuk Jipang itu adalah daerah-daerah : Blora, Bonang,Pamotan,Padangan,Rajekwesi,dan Lasem. Jadi praktis Rajekwesi menjadi wilayah kesultanan Yogjakarta.
       Ketika Sultan Hamengkubuwono II memasukkan daerah-daerah itu ke wilayahnya,maka nama Jipang di hapus dan di ganti dengan nama Rajekwesi. Rajekwesi yang sebagai kabupaten untuk itu di taruhlah seorang putra dari selir bernama Kanjeng Raden Tumenggung Wiryohadinegoro. Dalam menjalankan tugas sehari-hari ia di bantu oleh seorang patih.Setelah sepeninggalannya lalu Sultan mengangkat putranya R.M Brotodiningrat sebagai Bupati Rajekwesi. Pada waktu meletus perang Diponegoro ( 1825-1830 ), Bupati Brotodiningrat di daulat oleh rakyatnya sendiri. Karena rakyat di hasut oleh seorang tokoh pemberontak dari Tuban yang bernama Sosrodilogo.Dengan kekuatan pasukan Diponegoro dari Rembang,Sosrodilogo berhasil merebut kekuasaannya atas tahta Rajekwesi itu. Keraton di bakar jadi abu,dan bekas pondasi perumahan kabupaten itulah yang akhirnya di namakan Ngumpakdalem dan  desa di sekitar itupun lantas bernama Ngumpakdalem.
        Ketika R.M Soedarsono ( putra Bupati Brotodiningrat ) mendapat mandat rakyat untuk menjadi Bupati pengganti ayahnya.Tetapi beliau di tembak oleh kompeni Belanda,waktu pepergian ke Surabaya ( 11 April 1826 ). Adiknya yang bernama R.M Sasongko akhirnya mau berdamai dengan Belanda dan berhasil membunuh si pemberontak Sosrodilogo,kemudian Belanda mengangkat R.M Sasongko sebagai Bupati Rajekwesi dengan gelar R.M Srio Adipati Mulyodiningrat. Pada tanggal 14 Nopember 1827 Bupati pindah ke Ibu kota agak ke utara bekas hutan Kebogadung.