Thursday, 7 August 2014

Sebuah Perenungan



 AKU
Aku adalah aku,bukan kahlil Gibran atau chairil anwar yang mampu melukiskan kata hati mereka dalam keindahan puisi-puisi mereka.
Bukan pula hamka yang mampu mengambarkan kehidupan dalam sebuah novel.
Bukan pujangga,bukan pula seorang intelektual.

Aku adalah aku…..
Segumpal daging yang dapat bicara,merasa dan berkarya.
Seorang manusia yang diciptakan tuhan atas kehendaknya
Yang ia anugerahi kemampuan terbatas,namun punya keinginan yang tak terbatas,yang tak dapat kau kunjungi rumahku meskipun dalam mimpi.

Diatas bumi ini aku berpijak
Melewati waktu dalam takdirku
Sampai saatnya nanti aku kembali kewujud asalku,sampah tanha liat.

Diatas bumi ini pula,didunia ini
Kumainkan peranku dalam sandiwara hidup bersama kalian,yang menjalani peran kalian sendiri.

Aku adalah aku
Semangat yang timbul dijiwaku adalah teriakan hatiku
Sebap kau tiada bersahabat lagi.
Suaramu yang duku merdu ternyata hanyalah gumtur yang memekakkan telingaku.

Biarkan aku berjalan dijalanku
Berteriak dan tertawa dengan suaraku
Berlari dengan kedua kakiku
Menjamah dan merengkuh dengan kedua tanganku
Mengapa aku harus diam hanya karena kau bisikkan fatwa ynag sesungguhnya hanyalah bisa.

Tiada aku pernah ingin berhenti
Ini adalah duniaku
Gemuruh taufan adlah sahabatku,bersamanya kau berjalan.

Dimatamu mungkin aku tampak seperti iblis
Tapi tidak dimata Tuhan.

Kau sayat lidahku dengan sembilu prasangkamu
Darah mengucur membasahi bibirku
Tapi aku masih bisa tersenyum dalam pelukan kasihNya.
Kau iakatkan rantai ditubuhku dank au patri rantai itu dengan tembaga
Kemudian kau keluarkan taring dan cakarmu hendak menerkamku.

Memang aku tampak tak berdaya,tapi kekuatan  dan semangat jiwaku
Tetaap membara,mengalir dari urat-urat syarafku,menyusup diantara pori-pori kulitku
Aku masih tetap perkasa seperti dulu.

Walau kau berkabung membentangkan bendera kemenangan
Dan aku tersenyum tertutup kafan kekalahan,aku tetaplah aku
Semangat alam tak dapat melapukkan jiwaku.
Meskipun bumi menghancurkan jasadku
Aku…tetaplah aku.





RINDUKU MENGGANTUNG DIAWAN

Duniaku terasa hampa saat aku mulai melangkahkan kakiku menapaki jalan
Yang semakin berbatu dan berliku ini.
Disana…
Diujung jalan ini padang gersang telah Nampak,tanpa setetes air…
Hanya panas dan ilalang yang mulai mongering.

Aku bersimpuh ditepi jalan ini.
Membuka lembar demi lembar peristiwa saat kau masih bersamaku
Berbagi cerita,duka,dan bahagia.
Kau pernah bercerita padaku tentang kota tua yang penuh bunga
Dan akupun bercerita tentang seorang yang dirundung nestapa.

Namun agaknya peristiwa-peristiwa itu menguap begitu saja
 Diterpa panasnya impian-impian kita
Dan kita…….
Hanya bisa berdiri tegak melambaikan tangan kita dijalan kita masing-masing.

Sahabatku……
Agaknya tak bisa aku tapaki jalan ini tanpamu.
Telah tercium olehku aroma dupa kehampaan
Dibawa angin senja yang mulai dingin.
Aku rindu…..,rindu pada cerita-cerita kita.

Pernah aku titipkan rinduku pada angin
Namun agaknya,menurut cerita kupu-kupu kertas
Rinduku hanya menggantung diawan,terselip diantara mega-mega hitam.

Disini….
Ditepi jalan ini kutitipkan pesanku pada burung-burung kertas
Agar ia membawa rinduku yang menggantung diawan
Kepadamu yang jauh disana…..



MEMBACA KEMERDEKAAN

Bacalah kembali kalimat-kalimat tua itu
Tempat kakek-kakekmu memahatkan riwayatnya
Pada dinding-dinding taman kota.

Teriakan-teriakan itu melengking-lengking didua daun telinga kita
Yang lama tak bergerak-gerak
Rapuh dan renta
Mengingatkan pada anak-anak yang tak lagi punya legenda
Menjadi asing tak berbenua,sekedar pelancong
 Yang gagap menerka cuca dan mengukur peta-peta.

Waktu telah lama meluncur menajdi roket
Lebih setengah abad
Tiang-tiang terlanjur berdebu sebentar lagi jadi puing
Lampu warna-warni itu tak pernah bisa menyala,
Bendera yang berkibar hanya sekesar tanda,
Seperti nisan atau setumpuk sajak tak pernah dibaca.
Dan…..anak-anak akan jadi pecundang persis burung-burung yang kesepian
Mendongak jauh kebintang-bintang.
Mata dan paruhnya menyimpan dendam air mata.

Bacalah kembali kalimat-kalimat tua itu
Kitab kakek-kakekmu memaknai riwayatnya
Suara-suara itu melengking-lengking kembali
Namun kita,juga anak-anak itu terlanjur
Jadi pelancong dungu,tambah tua dan rabun
Bagaimana bisa membaca jejak…??????













BILA MALAM TELAH DATANG
KEMANA AKU HARUS MENCERITAKAN KISAH INI

            Suatu kali aku pernah melihat seorang wanita cantik nan penuh keagungan,memakai kerudung dengan wajahnya yang penuh kelembutan kasih seorang ibu.Saat pertama kali aku melihatnya yang ada dibenakku hanyalah rasa kagum dan simpayik karena ia Nampak sebagai seorang wanita yang tegar dimataku,namun lama-lama perasaan dihatiku berubah dari hari kehari menjadi rasa rindu yang sulit untuk ditahan.Hampir setiap malam aku ingin sekali melihat wajah perempuan itu,rasanya keinginanku itu tak bisa untuk ditahan semakin lama semakin sulit untuk dikendalikan ibarat sebuah gunung yang akan meletus dan mengeluarkan laharnya.Berkali-kali aku menyempatkan langkahku lewat di depan tempat ia tinggal,tak pernah sedetikpun mataku melepaskan pandangan dari tempatnya dan tak pernah sekalipun hatiku melupakannya.
            Dan pada suatu malam dengann penuh keberanian seorang lelaki akundatang ketempatnya menawarkan diri untuk dapat mengenal namanya,dan malam itu juga kutahu namanya adalah Zuli,singkat saja ia menyebutkan namanya,entah Zuli siapa aku tak tahu,bagiku dapat mengenalnya saja sudah cukup.Malam itu aku tak dapat memejamkan mataku walau hanya sesaat,terngiang ditelingaku waktu ia menyebutkan namanya dan yang paling membuatku merasa gundah malam itu adalah saat aku teringat kedipan matanya yang tampak bagaikan kedipan mata seorang bidadari,lembut berirama seiring dengan hembusan nafas yang keluar dari hidungnya.Sungguh sempurna Tuhan menciptakan dia,ibarat selaksa keindahan ditumpahkan untuk menciptakannya.
            Malam itu aku telah jadi seorang yang paling beruntung didunia ini meskipun kutahu keadaanku yang serba terbatas dalam segala hal,tapi semua itu tak kuhiraukan,ibarat mendapat bintang jatuh dari langit dan menerpa tubuhkuhingga aku  tak mampu bergerak,hanya diam terpaku dantak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun.Hari-hariku yang semula hany dipenuhi kelus kesah kini telah berubah dan berganti dengan kebahagiaan,bila pada awalnya kulalui hari-hariku dengan kebimbangan,kini dapat kulalui hidupku dengan mantap seakan-akan tersimpan harapan untukku dilangit,yang mana harapan itu dapat kuraih kapanpun aku mau.Dan sebagai seorang yang paling beruntung tak pernah sekalipunmuntuk memberitahukan kebahagiaanku ini pada sahabatku,Tuhan yang begitu memahamiku dengan sempurna,tahu segala kesedihan dan beban yang ada dihatiku serta memberiku jalan keluar terhadap segala beban yang aku tanggung.
            Oh…… tidak,rupanya hal itu tidak berlangsung lama,kudengar belakangan ini dia akan segera pulang ketempat asalnya yang ada di Pemalang Jawa Tengah.Sedih hatiku mendengarnya,terbayang hari-hariku akan kembali dipenuhi kegalauan lagi seperti dahulu.Segera aku berlari ketempatnya menanyakan apakah benar hal itu akan ia lakukan,setelah kudapatkan jawaban bahwa ia hanya pulang untuk sememtara waktu lalu kembali lagi kesini karena tugasnya sebagai perawat belum selesai untuk jangka waktu yang cukup lama,legalah hatiku,berarti kegalauanku tak akan lagi mengungkung hatiku untuk waktu yang lama.
            Dan hari-hariku berjalan seperti biasanya,tapi kini menjadi lebih berarti karna dari gelagat yang Nampak ia kelihatan juga menyukaiku,begitu juga halnya dengan diriku yang memang telah lama menaruh hati padanya.Kini aku lebih sering bermain ketempatnya,rasa kesepian kini tak lagi menerpaku karena aku tahu ada orang lain selai Tuhan yang mau mengerti aku.
            Entah mengapa suatu hari ada setan yang membisikkan padaku sebuah bisikan yang menyuruhku untuk mengatakan cinta padanya,pada mulanya tak kuhiraukan hal itu karena aku maklum siapa sebenarnya diriku ini,tak lebih dari seorang cowok yang terbatas segala-galanya,sehingga tak mungkin ada seorang cewek yang mau padaku,dan mungkin hanya cewek bodoh saja yang mau padaku.Tapi dasar setan,semakin tak kuhiraukan bisikannya semakin gencar saja agaknya mereka membisikiku untuk mengatakan cinta.Mula-mula dengan ragu-ragu kulakukan hal itu,dengan memancing omongan yang menjurus kearah itu,dan agaknya iapun menaggapinya denga serius.Dari sikapnya itu semakin membuatku berani untuk menanyakan tipe cowok idamanya,dan katanya ia suka pada cowok yang setia dan taan beragama,aku merasa ia bukanlah cewek yang materialistis jadi semakin berani saja aku mencuri-curi nalar padanya.Kucoba menawarkan diriku padanya dan agaknya ia member isyarat dengan kedipan matanya.
            Begitulah kejadian itu,dari pertemuan yang tak terduga akhirnya berujung pada kisah pertemuan dua perasaan yang saling membuthkan.Hampir setiap hariku dipenuhi impian-impian akan membentuk sebuah keluarga yang bahagia denganya,karena usiaku memang sudah pantas untuk menikah.aku tak ingin dikatakan orang sebagai cowok tak laku-laku,karena itu dengan segenap semangat yang aku miliki aku berusaha mempersiapkan segala sesuatu untuk melamarnya pada orang tuanya.lahir bathin aku siapkan untuk memboyongnya menjadi istriku,tapi alangkah malangnya diriku ini aku telah salah mengartikan isyarat yang ia berikan padaku,yang ternyata hanyalah sebuah isyarat untuk membentuk sebuah persahabatan yang kekal denganku,bukan seperti yang aku duga sebelumnya bahwa ia mau membentuk sebuah keluarga bersamaku,melalui hari-hari bersama,saling menunjukkan jalan kebenaran.kutahu itu belakangan sewaktu ia bercerita bahwa dirinya telah dilamar oleh seorang pemuda dari daerahku juga,teman sesame profesi denganya dan sebagai seorang sahabat,katanya ia meminta pertimbanganku.sebetulnya akau ingin menangis saat itu juga,tapi demi menjagawibawaku sebagai seorang lelaki kutahan perasaan itu.gelap……gelap rasanya duniaku saat itu,aku tak tahu lagi apa yang harus ku katakana bahwa aku benar-benar mengharapkan kehadiranya disisiku,ataukah harus kurelakan ia menjadi milik orang lain sementaradidalam hatiku teraa gersang mengharaapkan siraman cinta darinya.
            Akhirnya denga penuh rasa kesatria kukatakan padanya untuk menerima saja lamaran teman seprofesinya itu,siapa tahu denganya ia bisa menemukan kebahagiaan seperti yang selama ini  ia ceritakan padaku.aku segera berpamitan padanya,dadaku telah sesak oleh perasaan yang bercampur aduk tak karuan,antara menyesal dan malu.sesampainya dirumah kurebahkan tubuhku dikasur tempat tidurku,aku menangis sepuas hatiku menyesali semua yang telah terjadi padaku.ingin rasanya hatiku mengumpat nasib sial yang selalu menyertaiku sepanjang hayat,namun bila kuingat wajah Tuhan yang menciptakan nasib itu perasaan berdosa dating menyergapkuMestinya aku bersyukur padanya,bahwa dengan penuh cinta ia memberiku kesempatan seindah itu untuk bertemu gadis secantik dan sebaik zuli,meskipun aku tak mampu meraih cintanya tapi aku  telah memperoleh kepercayaan yang besar sebagai seorang sahabat,tapi entahlah….yang ada dihatiku hanyalah rasa gersang akan cinta,cinta dari wanita yang jadi tambatan hatiku selama ini,tempat dimana ingin kucurahkan seluruh pengharapan  dan do’aku untuk meraih keberuntungan hidup agar tak pernah lagi ada rasa gundah dalam menapaki jalan hidup ini.
            Malam itu kulalui dengan perasaan galau,dan agaknya malam itupun menjawabnya dengan tidak menampakkan satu bintangpun.aku tak tahu bagaimana lagi kulalui malam-malam selanjutnya,kemana dan pada siapa harus aku ceritakan kisahku ini,aku tak tahu juga apakah kisah semacam ini akan aku alami lagi dalam hidupku dilain hari,mungkinkah aku ditakdirkan untuk menjalani peran kelam dalam sandiwara hidup ini????aku tak tahu,yang kutahu hanyalah bahwa aku bingung untuk menceritaakan kisah ini bila malam datang bersama kesunyian dan rintih rembulan tertutup awan.


No comments:

Post a Comment