AKU
Aku
adalah aku,bukan kahlil Gibran atau chairil anwar yang mampu melukiskan kata
hati mereka dalam keindahan puisi-puisi mereka.
Bukan
pula hamka yang mampu mengambarkan kehidupan dalam sebuah novel.
Bukan
pujangga,bukan pula seorang intelektual.
Aku
adalah aku…..
Segumpal
daging yang dapat bicara,merasa dan berkarya.
Seorang
manusia yang diciptakan tuhan atas kehendaknya
Yang
ia anugerahi kemampuan terbatas,namun punya keinginan yang tak terbatas,yang
tak dapat kau kunjungi rumahku meskipun dalam mimpi.
Diatas
bumi ini aku berpijak
Melewati
waktu dalam takdirku
Sampai
saatnya nanti aku kembali kewujud asalku,sampah tanha liat.
Diatas
bumi ini pula,didunia ini
Kumainkan
peranku dalam sandiwara hidup bersama kalian,yang menjalani peran kalian sendiri.
Aku
adalah aku
Semangat
yang timbul dijiwaku adalah teriakan hatiku
Sebap
kau tiada bersahabat lagi.
Suaramu
yang duku merdu ternyata hanyalah gumtur yang memekakkan telingaku.
Biarkan
aku berjalan dijalanku
Berteriak
dan tertawa dengan suaraku
Berlari
dengan kedua kakiku
Menjamah
dan merengkuh dengan kedua tanganku
Mengapa
aku harus diam hanya karena kau bisikkan fatwa ynag sesungguhnya hanyalah bisa.
Tiada
aku pernah ingin berhenti
Ini
adalah duniaku
Gemuruh
taufan adlah sahabatku,bersamanya kau berjalan.
Dimatamu
mungkin aku tampak seperti iblis
Tapi
tidak dimata Tuhan.
Kau
sayat lidahku dengan sembilu prasangkamu
Darah
mengucur membasahi bibirku
Tapi
aku masih bisa tersenyum dalam pelukan kasihNya.
Kau
iakatkan rantai ditubuhku dank au patri rantai itu dengan tembaga
Kemudian
kau keluarkan taring dan cakarmu hendak menerkamku.
Memang
aku tampak tak berdaya,tapi kekuatan dan
semangat jiwaku
Tetaap
membara,mengalir dari urat-urat syarafku,menyusup diantara pori-pori kulitku
Aku
masih tetap perkasa seperti dulu.
Walau
kau berkabung membentangkan bendera kemenangan
Dan
aku tersenyum tertutup kafan kekalahan,aku tetaplah aku
Semangat
alam tak dapat melapukkan jiwaku.
Meskipun
bumi menghancurkan jasadku
Aku…tetaplah
aku.
RINDUKU MENGGANTUNG DIAWAN
Duniaku
terasa hampa saat aku mulai melangkahkan kakiku menapaki jalan
Yang
semakin berbatu dan berliku ini.
Disana…
Diujung
jalan ini padang gersang telah Nampak,tanpa setetes air…
Hanya
panas dan ilalang yang mulai mongering.
Aku
bersimpuh ditepi jalan ini.
Membuka
lembar demi lembar peristiwa saat kau masih bersamaku
Berbagi
cerita,duka,dan bahagia.
Kau
pernah bercerita padaku tentang kota tua yang penuh bunga
Dan
akupun bercerita tentang seorang yang dirundung nestapa.
Namun
agaknya peristiwa-peristiwa itu menguap begitu saja
Diterpa panasnya impian-impian kita
Dan
kita…….
Hanya
bisa berdiri tegak melambaikan tangan kita dijalan kita masing-masing.
Sahabatku……
Agaknya
tak bisa aku tapaki jalan ini tanpamu.
Telah
tercium olehku aroma dupa kehampaan
Dibawa
angin senja yang mulai dingin.
Aku
rindu…..,rindu pada cerita-cerita kita.
Pernah
aku titipkan rinduku pada angin
Namun
agaknya,menurut cerita kupu-kupu kertas
Rinduku
hanya menggantung diawan,terselip diantara mega-mega hitam.
Disini….
Ditepi
jalan ini kutitipkan pesanku pada burung-burung kertas
Agar
ia membawa rinduku yang menggantung diawan
Kepadamu
yang jauh disana…..
MEMBACA KEMERDEKAAN
Bacalah
kembali kalimat-kalimat tua itu
Tempat
kakek-kakekmu memahatkan riwayatnya
Pada
dinding-dinding taman kota.
Teriakan-teriakan
itu melengking-lengking didua daun telinga kita
Yang
lama tak bergerak-gerak
Rapuh
dan renta
Mengingatkan
pada anak-anak yang tak lagi punya legenda
Menjadi
asing tak berbenua,sekedar pelancong
Yang gagap menerka cuca dan mengukur
peta-peta.
Waktu
telah lama meluncur menajdi roket
Lebih
setengah abad
Tiang-tiang
terlanjur berdebu sebentar lagi jadi puing
Lampu
warna-warni itu tak pernah bisa menyala,
Bendera
yang berkibar hanya sekesar tanda,
Seperti
nisan atau setumpuk sajak tak pernah dibaca.
Dan…..anak-anak
akan jadi pecundang persis burung-burung yang kesepian
Mendongak
jauh kebintang-bintang.
Mata
dan paruhnya menyimpan dendam air mata.
Bacalah
kembali kalimat-kalimat tua itu
Kitab
kakek-kakekmu memaknai riwayatnya
Suara-suara
itu melengking-lengking kembali
Namun
kita,juga anak-anak itu terlanjur
Jadi
pelancong dungu,tambah tua dan rabun
Bagaimana
bisa membaca jejak…??????
BILA
MALAM TELAH DATANG
KEMANA
AKU HARUS MENCERITAKAN KISAH INI
Suatu kali aku pernah melihat
seorang wanita cantik nan penuh keagungan,memakai kerudung dengan wajahnya yang
penuh kelembutan kasih seorang ibu.Saat pertama kali aku melihatnya yang ada
dibenakku hanyalah rasa kagum dan simpayik karena ia Nampak sebagai seorang
wanita yang tegar dimataku,namun lama-lama perasaan dihatiku berubah dari hari
kehari menjadi rasa rindu yang sulit untuk ditahan.Hampir setiap malam aku
ingin sekali melihat wajah perempuan itu,rasanya keinginanku itu tak bisa untuk
ditahan semakin lama semakin sulit untuk dikendalikan ibarat sebuah gunung yang
akan meletus dan mengeluarkan laharnya.Berkali-kali aku menyempatkan langkahku
lewat di depan tempat ia tinggal,tak pernah sedetikpun mataku melepaskan
pandangan dari tempatnya dan tak pernah sekalipun hatiku melupakannya.
Dan pada suatu malam dengann penuh
keberanian seorang lelaki akundatang ketempatnya menawarkan diri untuk dapat
mengenal namanya,dan malam itu juga kutahu namanya adalah Zuli,singkat saja ia
menyebutkan namanya,entah Zuli siapa aku tak tahu,bagiku dapat mengenalnya saja
sudah cukup.Malam itu aku tak dapat memejamkan mataku walau hanya
sesaat,terngiang ditelingaku waktu ia menyebutkan namanya dan yang paling
membuatku merasa gundah malam itu adalah saat aku teringat kedipan matanya yang
tampak bagaikan kedipan mata seorang bidadari,lembut berirama seiring dengan
hembusan nafas yang keluar dari hidungnya.Sungguh sempurna Tuhan menciptakan
dia,ibarat selaksa keindahan ditumpahkan untuk menciptakannya.
Malam itu aku telah jadi seorang
yang paling beruntung didunia ini meskipun kutahu keadaanku yang serba terbatas
dalam segala hal,tapi semua itu tak kuhiraukan,ibarat mendapat bintang jatuh
dari langit dan menerpa tubuhkuhingga aku
tak mampu bergerak,hanya diam terpaku dantak mampu untuk mengucapkan
sepatah katapun.Hari-hariku yang semula hany dipenuhi kelus kesah kini telah
berubah dan berganti dengan kebahagiaan,bila pada awalnya kulalui hari-hariku
dengan kebimbangan,kini dapat kulalui hidupku dengan mantap seakan-akan
tersimpan harapan untukku dilangit,yang mana harapan itu dapat kuraih kapanpun
aku mau.Dan sebagai seorang yang paling beruntung tak pernah sekalipunmuntuk
memberitahukan kebahagiaanku ini pada sahabatku,Tuhan yang begitu memahamiku
dengan sempurna,tahu segala kesedihan dan beban yang ada dihatiku serta
memberiku jalan keluar terhadap segala beban yang aku tanggung.
Oh…… tidak,rupanya hal itu tidak berlangsung
lama,kudengar belakangan ini dia akan segera pulang ketempat asalnya yang ada
di Pemalang Jawa Tengah.Sedih hatiku mendengarnya,terbayang hari-hariku akan
kembali dipenuhi kegalauan lagi seperti dahulu.Segera aku berlari ketempatnya
menanyakan apakah benar hal itu akan ia lakukan,setelah kudapatkan jawaban
bahwa ia hanya pulang untuk sememtara waktu lalu kembali lagi kesini karena
tugasnya sebagai perawat belum selesai untuk jangka waktu yang cukup
lama,legalah hatiku,berarti kegalauanku tak akan lagi mengungkung hatiku untuk
waktu yang lama.
Dan hari-hariku berjalan seperti
biasanya,tapi kini menjadi lebih berarti karna dari gelagat yang Nampak ia
kelihatan juga menyukaiku,begitu juga halnya dengan diriku yang memang telah
lama menaruh hati padanya.Kini aku lebih sering bermain ketempatnya,rasa
kesepian kini tak lagi menerpaku karena aku tahu ada orang lain selai Tuhan
yang mau mengerti aku.
Entah mengapa suatu hari ada setan
yang membisikkan padaku sebuah bisikan yang menyuruhku untuk mengatakan cinta
padanya,pada mulanya tak kuhiraukan hal itu karena aku maklum siapa sebenarnya
diriku ini,tak lebih dari seorang cowok yang terbatas segala-galanya,sehingga
tak mungkin ada seorang cewek yang mau padaku,dan mungkin hanya cewek bodoh
saja yang mau padaku.Tapi dasar setan,semakin tak kuhiraukan bisikannya semakin
gencar saja agaknya mereka membisikiku untuk mengatakan cinta.Mula-mula dengan
ragu-ragu kulakukan hal itu,dengan memancing omongan yang menjurus kearah
itu,dan agaknya iapun menaggapinya denga serius.Dari sikapnya itu semakin
membuatku berani untuk menanyakan tipe cowok idamanya,dan katanya ia suka pada
cowok yang setia dan taan beragama,aku merasa ia bukanlah cewek yang
materialistis jadi semakin berani saja aku mencuri-curi nalar padanya.Kucoba
menawarkan diriku padanya dan agaknya ia member isyarat dengan kedipan matanya.
Begitulah kejadian itu,dari
pertemuan yang tak terduga akhirnya berujung pada kisah pertemuan dua perasaan
yang saling membuthkan.Hampir setiap hariku dipenuhi impian-impian akan
membentuk sebuah keluarga yang bahagia denganya,karena usiaku memang sudah pantas
untuk menikah.aku tak ingin dikatakan orang sebagai cowok tak laku-laku,karena
itu dengan segenap semangat yang aku miliki aku berusaha mempersiapkan segala
sesuatu untuk melamarnya pada orang tuanya.lahir bathin aku siapkan untuk
memboyongnya menjadi istriku,tapi alangkah malangnya diriku ini aku telah salah
mengartikan isyarat yang ia berikan padaku,yang ternyata hanyalah sebuah
isyarat untuk membentuk sebuah persahabatan yang kekal denganku,bukan seperti
yang aku duga sebelumnya bahwa ia mau membentuk sebuah keluarga
bersamaku,melalui hari-hari bersama,saling menunjukkan jalan kebenaran.kutahu
itu belakangan sewaktu ia bercerita bahwa dirinya telah dilamar oleh seorang
pemuda dari daerahku juga,teman sesame profesi denganya dan sebagai seorang
sahabat,katanya ia meminta pertimbanganku.sebetulnya akau ingin menangis saat
itu juga,tapi demi menjagawibawaku sebagai seorang lelaki kutahan perasaan
itu.gelap……gelap rasanya duniaku saat itu,aku tak tahu lagi apa yang harus ku
katakana bahwa aku benar-benar mengharapkan kehadiranya disisiku,ataukah harus
kurelakan ia menjadi milik orang lain sementaradidalam hatiku teraa gersang
mengharaapkan siraman cinta darinya.
Akhirnya denga penuh rasa kesatria
kukatakan padanya untuk menerima saja lamaran teman seprofesinya itu,siapa tahu
denganya ia bisa menemukan kebahagiaan seperti yang selama ini ia ceritakan padaku.aku segera berpamitan
padanya,dadaku telah sesak oleh perasaan yang bercampur aduk tak karuan,antara
menyesal dan malu.sesampainya dirumah kurebahkan tubuhku dikasur tempat
tidurku,aku menangis sepuas hatiku menyesali semua yang telah terjadi
padaku.ingin rasanya hatiku mengumpat nasib sial yang selalu menyertaiku
sepanjang hayat,namun bila kuingat wajah Tuhan yang menciptakan nasib itu
perasaan berdosa dating menyergapkuMestinya aku bersyukur padanya,bahwa dengan
penuh cinta ia memberiku kesempatan seindah itu untuk bertemu gadis secantik
dan sebaik zuli,meskipun aku tak mampu meraih cintanya tapi aku telah memperoleh kepercayaan yang besar
sebagai seorang sahabat,tapi entahlah….yang ada dihatiku hanyalah rasa gersang
akan cinta,cinta dari wanita yang jadi tambatan hatiku selama ini,tempat dimana
ingin kucurahkan seluruh pengharapan dan
do’aku untuk meraih keberuntungan hidup agar tak pernah lagi ada rasa gundah
dalam menapaki jalan hidup ini.
Malam itu kulalui dengan perasaan
galau,dan agaknya malam itupun menjawabnya dengan tidak menampakkan satu
bintangpun.aku tak tahu bagaimana lagi kulalui malam-malam selanjutnya,kemana
dan pada siapa harus aku ceritakan kisahku ini,aku tak tahu juga apakah kisah
semacam ini akan aku alami lagi dalam hidupku dilain hari,mungkinkah aku
ditakdirkan untuk menjalani peran kelam dalam sandiwara hidup ini????aku tak
tahu,yang kutahu hanyalah bahwa aku bingung untuk menceritaakan kisah ini bila
malam datang bersama kesunyian dan rintih rembulan tertutup awan.
No comments:
Post a Comment